BREAKING NEWS

✈️ RAYANI 2.0: Bisakah Brand Lama Lahir Dengan Model Baru?

 

KILAS INFO AVIATION
Berita • Analisis • Insight
Membaca Arah Langit, Memahami Masa Depan.

Oleh: Tim Editorial KILAS INFO AVIATION
Komentator Eksklusif: Capt. Mahdi Prijatna

Pemimpin Redaksi: Mahdi Priatna

Dari penerbangan domestik menuju charter Haji–Umrah — sebuah comeback yang harus dibuktikan dengan governance, operational discipline dan kepercayaan pasar

SEPULUH TAHUN KEMUDIAN, RAYANI 2.0 KEMBALI

Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah brand airline yang pernah berhenti beroperasi mencoba kembali ke langit.

Yang kembali bukan hanya sebuah nama.

Yang kembali adalah sejarah, ekspektasi, pertanyaan, sekaligus kesempatan untuk membangun sesuatu yang berbeda.

Itulah yang kini terjadi pada Rayani 2.0.

Rayani 2.0 mengumumkan kemunculannya kembali di bawah manajemen baru dengan model bisnis yang berbeda secara fundamental: tidak lagi mengoperasikan penerbangan domestik berjadwal seperti pada 2015–2016, tetapi memfokuskan diri pada penerbangan charter Haji dan Umrah yang diklaim patuh syariah. Operasi baru tersebut ditargetkan mulai pada 2027 dengan rencana penggunaan Airbus A330-300 berkapasitas sekitar 360-400 penumpang.

Dengan kata lain:

Rayani 2.0 bukan sekadar restart Rayani Air.

Setidaknya demikian konsep yang sedang dibangun.

RAYANI 1.0: SEJARAH YANG TIDAK BISA DIHAPUS

Rayani Air memulai penerbangan perdananya pada 20 Desember 2015.

Pada masa itu, model bisnisnya adalah penerbangan domestik berjadwal menggunakan Boeing 737-400 dengan kapasitas sekitar 160 penumpang.

Namun perjalanan tersebut tidak berlangsung lama.

Operasi berhenti pada Juni 2016. MAVCOM mencabut Air Service Licence (ASL) pada 13 Juni 2016 dengan alasan pelanggaran terhadap persyaratan lisensi serta kekurangan kemampuan finansial dan manajemen untuk melanjutkan operasi sebagai maskapai komersial. AOC yang diterbitkan otoritas penerbangan Malaysia juga dicabut pada hari yang sama. BERNAMA

Hampir satu dekade kemudian, nama tersebut muncul kembali.

Tetapi kali ini dengan pendekatan yang berbeda.

Dan justru di sinilah pertanyaan paling menarik muncul:

Apakah Rayani 2.0 benar-benar sebuah airline baru dengan sistem baru, atau hanya sebuah brand lama yang mencoba terbang kembali?

DARI 737 KE A330

Perubahan paling mudah dilihat adalah pesawatnya.

Rayani sebelumnya menggunakan Boeing 737-400.

Rayani 2.0 merencanakan penggunaan Airbus A330-300 dengan konfigurasi sekitar 360-400 penumpang. 

Secara bisnis, perubahan tersebut sangat signifikan.

A330 membawa kapasitas lebih besar, kemampuan penerbangan jarak jauh dan economics yang berbeda dibandingkan narrowbody.

Tetapi ada satu prinsip yang harus diingat:

Aircraft is an asset. It is not the business model.

Pesawat yang besar tidak otomatis menghasilkan bisnis yang besar.

A330 harus menghasilkan:

  • utilisasi yang sehat;
  • load factor yang memadai;
  • yield yang tepat;
  • aircraft availability;
  • crew productivity;
  • maintenance planning;
  • fuel efficiency;
  • operational reliability;
  • dan yang paling penting, cash flow yang mampu menopang operasi.

Karena itu, keputusan menggunakan A330 harus dibaca sebagai bagian dari sebuah sistem, bukan sebagai headline.

MODEL BISNISNYA JUGA BERUBAH

Inilah bagian yang menurut KILAS INFO AVIATION jauh lebih penting daripada pergantian tipe pesawat.

Rayani 2.0 tidak lagi menempatkan scheduled domestic operation sebagai fokus.

Model yang diumumkan adalah charter Haji dan Umrah.

Perubahan tersebut membuat airline memiliki karakter komersial yang berbeda.

Dalam scheduled airline, kursi dijual sepanjang jaringan dan kalender penerbangan.

Dalam charter pilgrimage, hubungan antara airline dengan travel operator, PPIU/PJH, ground handling, hotel, transportasi darat dan pihak-pihak lain menjadi bagian penting dari keseluruhan produk.

Jadi airline tidak sekadar menjual:

seat.

Airline menjual:

certainty.

Kepastian keberangkatan.

Kepastian aircraft.

Kepastian jadwal.

Kepastian handling.

Kepastian konektivitas.

Dan pada akhirnya:

trust.

RAYANI SENDIRI MENGAKUI MASA LALUNYA

Ada satu hal yang menarik dari pernyataan terbaru Rayani.

Perusahaan tidak mengabaikan persoalan masa lalu.

Rayani mengakui adanya kekecewaan penumpang pada periode 2015–2016, terutama berkaitan dengan pembatalan penerbangan dan refund yang masih tertunda.

Perusahaan menyatakan sedang melakukan peninjauan terhadap rekod refund lama dengan bantuan penasihat hukum untuk menentukan penyelesaian melalui saluran yang sesuai. BERNAMA

Ini penting.

Karena bagi sebuah airline yang membawa kembali nama lama, legacy issue bukan sekadar masalah komunikasi.

Ia merupakan bagian dari corporate credibility.

Dan credibility tidak dapat dibangun hanya dengan logo baru.

🎙️ KOMENTAR EKSKLUSIF CAPT. MAHDI PRIJATNA

Menurut Capt. Mahdi Prijatna, yang terlibat dalam penjajakan struktur Rayani 2.0, tantangan terbesar Rayani bukan sekadar bagaimana menerbangkan A330.

Tetapi bagaimana membangun sistem airline yang mampu bertahan.

“Saya melihat Rayani 2.0 bukan sebagai Rayani lama yang sekadar kembali terbang. Kalau memang ingin menjadi Rayani 2.0, maka yang harus berubah bukan hanya pesawat dan segmen pasarnya, tetapi seluruh sistem bisnis, governance, operational control, safety culture, financial discipline dan cara membangun kepercayaan pasar.”

Menurutnya, perubahan dari scheduled domestic airline menuju Haji–Umrah charter merupakan perubahan model bisnis yang cukup besar.

“Charter Haji dan Umrah mempunyai karakter ekonomi yang berbeda. Kita tidak hanya menjual seat. Kita menjual reliability, kepastian jadwal, aircraft availability, on-time performance, pelayanan jamaah dan yang paling penting adalah trust.”

A330 BUKAN SEKADAR PESAWAT BESAR

Capt. Mahdi juga melihat A330 sebagai alat produksi dalam model bisnis baru tersebut.

Namun ia mengingatkan bahwa widebody aircraft harus dibangun bersama perencanaan ekonomi yang disiplin.

“A330 adalah alat produksi. Pesawat sebesar apa pun tidak akan menjadi bisnis apabila load factor, yield, utilisation, route structure, aircraft availability dan cash-flow management tidak dihitung dengan benar.”

Menurutnya, charter pilgrimage memiliki efek domino yang besar.

“Kalau satu rangkaian charter terganggu, dampaknya bukan hanya kepada airline. Ada travel operator, PPIU, ground handling, hotel, transportasi darat dan ribuan jamaah yang ikut terdampak. Karena itu operational resilience harus menjadi bagian dari business model sejak awal.”

LALU, BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?

Pertanyaan berikutnya menjadi semakin menarik.

Indonesia adalah salah satu pasar Umrah terbesar di kawasan.

Tetapi masuk ke Indonesia bukan sekadar mencari penumpang.

Ada persoalan:

regulasi, AOC, operational control, traffic rights, slot, airport handling, aircraft acceptance, crew, maintenance, insurance dan struktur tanggung jawab operator.

Karena itu, Rayani 2.0 perlu membangun struktur yang benar-benar jelas apabila ingin menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dari jaringan operasinya.

DOKUMEN YANG MENARIK: LOI RAYANI 2.0 – SRIWIJAYA AIR

Menariknya, proses tersebut bukan hanya wacana.

Dalam Letter of Intent No. LOI/RY2.0-SJ/09/2026 tanggal 25 September 2026, Rayani 2.0 Travel & Tours Sdn Bhd secara resmi menyampaikan penjajakan kepada PT Sriwijaya Air untuk kemungkinan pengoperasian dua Airbus A330-300 menggunakan AOC Sriwijaya Air. Dokumen tersebut juga menyebut pesawat diperoleh melalui skema lease. LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma…

LOI tersebut menunjuk Capt. Mahdi Prijatna sebagai Head of Reagent Country Rayani 2.0 untuk menangani, mewakili dan menindaklanjuti pembahasan serta koordinasi proyek dengan Sriwijaya Air dan pihak terkait. LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma…

Tetapi ada satu hal yang sangat penting:

LOI tersebut adalah penjajakan, bukan bukti bahwa struktur operasi telah final.

Rayani dalam dokumen tersebut justru meminta Sriwijaya Air memberikan penjelasan mengenai bentuk AOC Management / AOC Arrangement, persyaratan teknis dan operasional, pembagian tanggung jawab, management fee, operational control, safety oversight, airworthiness/maintenance, insurance, crew, slot, traffic rights dan ground handling. LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma…

Dengan kata lain:

struktur tersebut sedang dibangun dan dibahas.

Belum boleh dibaca sebagai operasi Indonesia yang sudah memperoleh seluruh persetujuan.

DARI AOC SAMPAI OPERATIONAL CONTROL

Ini adalah wilayah yang sering tidak terlihat oleh publik.

Orang melihat:

Rayani + A330 + Umrah.

Industri penerbangan melihat:

Who is the operator?

Who holds operational control?

Who is responsible for safety?

Who manages airworthiness?

Who controls the crew?

Who carries the insurance?

Who obtains the necessary traffic rights?

Who manages slots and ground operations?

Dan yang paling penting:

Siapa yang bertanggung jawab kepada regulator ketika sesuatu terjadi?

Karena itu, AOC arrangement tidak boleh dipahami sekadar sebagai “numpang AOC”.

Struktur tersebut harus diterjemahkan menjadi pembagian tanggung jawab yang jelas, legal, operational dan regulatorily acceptable.

DUA A330: POTENSI SEKALIGUS TANTANGAN

LOI Rayani 2.0 menyebut rencana penggunaan dua A330-300 untuk mendukung program Umrah dan Haji.

Program awal dalam LOI diarahkan pada periode Oktober 2026 sampai Juli 2027, sementara rute, jadwal, frekuensi dan utilisasi masih akan dibahas berdasarkan kebutuhan pasar, slot, traffic rights, persetujuan regulator serta pembahasan komersial dan operasional. LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma…

Pada saat yang sama, pengumuman publik Rayani menyebut operasi Rayani 2.0 ditargetkan mulai pada 2027. BERNAMA

Perbedaan konteks waktu tersebut menunjukkan satu hal penting:

Timeline operasional masih merupakan bagian dari proses structuring dan approval.

Dan itu normal dalam industri penerbangan.

Sebuah airline tidak dapat hanya mengatakan:

“Kami akan terbang.”

Industri akan bertanya:

“Dengan AOC siapa?”

“Dengan approval siapa?”

“Aircraft sudah ready?”

“Crew sudah ready?”

“Maintenance program bagaimana?”

“Insurance bagaimana?”

“Traffic rights sudah?”

“Slot sudah?”

“Working capital cukup?”

RAYANI 2.0 DAN MASALAH PALING SULIT: TRUST

Pesawat bisa di-lease.

Crew bisa direkrut.

Ground handling bisa dikontrak.

Hotel bisa dipesan.

Tetapi trust tidak bisa di-lease.

Trust harus dibangun melalui performance.

Dan karena Rayani membawa sejarah sebelumnya, proses tersebut akan menjadi semakin penting.

Capt. Mahdi melihat hal itu bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari.

“Saya justru melihat masa lalu harus ditempatkan secara terbuka. Brand lama mempunyai sejarah. Rayani 2.0 tidak perlu menghapus sejarah tersebut. Yang harus dilakukan adalah menunjukkan bahwa governance, management system dan operational discipline yang sekarang benar-benar berbeda.”

INDONESIA: PASAR BESAR, TETAPI BUKAN PASAR SEDERHANA

Indonesia mempunyai basis pasar Umrah yang sangat besar.

Tetapi besarnya pasar tidak berarti entry-nya otomatis mudah.

Untuk Haji, misalnya, struktur penyelenggaraan dan perizinan memiliki lapisan regulasi yang ketat. Di Malaysia sendiri, Tabung Haji pada September 2026 mengumumkan 33 Pengelola Jemaah Haji (PJH) berlesen untuk musim Haji 1448H/2027M setelah melalui penilaian termasuk kemampuan kewangan, rekod prestasi dan keupayaan pengurusan. BERNAMA

Ini memberikan gambaran bahwa pilgrimage aviation bukan hanya masalah aircraft.

Ia merupakan ecosystem business.

Airline hanya satu bagian.

RAYANI 2.0 HARUS MEMBANGUN ECOSYSTEM

Jika model Rayani benar-benar ingin fokus pada Haji dan Umrah, maka ecosystem-nya harus dibangun secara simultan.

Mulai dari:

1. Airline

Aircraft, AOC/operator structure dan operational control.

2. Commercial

Charter contracts, seat allocation dan yield management.

3. Distribution

Travel agent, PPIU/PJH dan jaringan penjualan.

4. Airport

Slot, handling, passenger processing dan turnaround.

5. Maintenance

CAMO/maintenance arrangement dan aircraft availability.

6. Crew

Flight crew dan cabin crew yang sesuai dengan regulatory requirements.

7. Saudi side

Airport, handling, slot, traffic rights dan koordinasi dengan pihak terkait di Arab Saudi.

8. Passenger experience

Jamaah harus mendapatkan perjalanan yang konsisten dari titik keberangkatan sampai Jeddah/Madinah dan kembali.

Inilah yang membuat Rayani 2.0 jauh lebih menarik untuk diamati sebagai sebuah aviation business case.

🎙️ “SAYA TIDAK INGIN RAYANI 2.0 HANYA MENJADI HEADLINE”

Capt. Mahdi memberikan satu perspektif yang menurut KILAS INFO AVIATION sangat relevan.

“Saya lebih tertarik melihat milestone-nya. Regulatory approval, aircraft readiness, operational control, crew, CAMO dan maintenance arrangement, insurance, airport handling, traffic rights, slot, commercial contract dan working capital. Kalau semua itu tersusun, barulah kita berbicara mengenai airline yang siap terbang.”

Ini mungkin merupakan cara paling sederhana untuk membaca Rayani 2.0:

Jangan hanya melihat announcement. Lihat milestone.

RAYANI 2.0 REALITY CHECK

KILAS INFO AVIATION melihat setidaknya ada delapan indikator yang akan menentukan bagaimana perjalanan Rayani 2.0 selanjutnya:

IndikatorPertanyaan utama
RegulatoryApakah seluruh approval dan struktur operator dapat dipenuhi?
AircraftApakah A330 benar-benar ready untuk operasi?
Operational ControlSiapa yang memegang dan menjalankan operational control?
Safety & MaintenanceBagaimana CAMO, maintenance dan safety oversight disusun?
FinancialApakah tersedia working capital yang cukup untuk sustain operasi?
CommercialApakah charter contract dan distribution network cukup kuat?
TrustBagaimana legacy issue dan customer confidence ditangani?
IndonesiaBagaimana struktur AOC, traffic rights dan tanggung jawab regulator bila masuk Indonesia?

Bagi industri, delapan indikator ini jauh lebih penting daripada sekadar melihat pesawat pertama muncul di apron.

BRAND LAMA, MANAGEMENT BARU, SISTEM BARU

Pada akhirnya, Rayani 2.0 menghadapi tantangan yang unik.

Ia mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki startup airline biasa:

brand recognition.

Tetapi pada saat yang sama, ia juga membawa sesuatu yang tidak dimiliki startup airline baru:

legacy.

Itulah pedang bermata dua Rayani.

Brand lama dapat mempercepat awareness.

Tetapi sejarah lama juga membuat pasar memiliki memori.

Maka pekerjaan Rayani 2.0 bukan hanya membangun airline.

Ia harus membangun ulang confidence.

Dan confidence tidak dibangun melalui slogan.

Confidence dibangun melalui:

on-time performance.

operational reliability.

safety.

transparency.

financial discipline.

customer handling.

Dan konsistensi.

🎙️ SIGNATURE VIEW — CAPT. MAHDI PRIJATNA

“Kalau saya boleh menyimpulkan, Rayani 2.0 harus membuktikan lima hal: regulatory readiness, operational readiness, financial sustainability, commercial connectivity dan trust rebuilding.”

Kemudian ia memberikan satu kalimat yang mungkin menjadi inti dari seluruh perjalanan Rayani 2.0:

“Rayani 2.0 tidak perlu membuktikan bahwa mereka bisa kembali terbang. Mereka harus membuktikan bahwa mereka bisa terbang dengan benar, aman, konsisten dan berkelanjutan.”

Kalimat tersebut mungkin sederhana.

Tetapi di industri penerbangan, justru itulah ukuran sebenarnya.

KESIMPULAN KILAS INFO AVIATION

Rayani Air 2.0 menarik bukan karena sebuah brand lama kembali.

Rayani 2.0 menarik karena model bisnisnya berubah.

Dari:

scheduled domestic

menjadi:

Haji–Umrah charter.

Dari:

B737-400

menuju:

A330-300.

Dari:

model airline lama

menuju:

struktur baru dengan manajemen baru.

Dan dalam penjajakan Indonesia, dari sekadar konsep menjadi pembicaraan konkret mengenai kemungkinan AOC Management/AOC Arrangement dengan Sriwijaya Air. LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma…

Namun semuanya masih harus melewati proses.

Regulator.

Technical.

Operational.

Commercial.

Financial.

Dan yang paling sulit:

trust.

Karena itu, KILAS INFO AVIATION tidak melihat Rayani 2.0 sebagai cerita “airline lama kembali terbang”.

Kami melihatnya sebagai sebuah aviation case study:

Bisakah sebuah brand lama menggunakan kesempatan kedua untuk membangun airline dengan sistem yang benar-benar baru?

Jawabannya belum ditentukan oleh headline.

Jawabannya akan ditentukan oleh execution.

Dan industri penerbangan akan melihatnya satu per satu.

Milestone demi milestone.

Flight demi flight.

KILAS INFO AVIATION

Berita • Analisis • Insight

“Membaca Arah Langit, Memahami Masa Depan.”

Pemimpin Redaksi: Mahdi Priatna

Komentator Eksklusif: Capt. Mahdi Prijatna