BREAKING NEWS

G-BRAN NTT Peduli Pendidikan, Buka Peluang Generasi Muda Kuliah, Terampil Dan Memasuki Dunia Kerja

Prof. Yonson Gideon Dethan Dorong Kolaborasi Pendidikan, LPK dan Dunia Kerja; Ketua DPD G-BRAN NTT Ajak Masyarakat Manfaatkan Peluang Pendidikan


KUPANG, KILAS INFO — Gerakan G-BRAN NTT Peduli Pendidikan mendorong terbukanya akses pendidikan, pelatihan keterampilan dan kesempatan kerja bagi generasi muda di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Program tersebut menjadi bagian dari perhatian DPD G-BRAN NTT terhadap pengembangan sumber daya manusia, dengan mendorong kolaborasi antara lembaga pendidikan, lembaga pelatihan keterampilan dan program pemerintah.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Yayasan Universitas San Pedro Kupang sekaligus Dewan Penasihat dan Pembina DPD G-BRAN NTT, Prof. Dr. Pdt. Yonson Gideon Dethan, M.Div.

Menurut Prof. Yonson, masyarakat perlu mengetahui adanya peluang pendidikan dan pelatihan yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak muda NTT.

Ia secara khusus mengajak jajaran PAC, DPC, unsur pemerintah daerah, para bupati dan wakil bupati, serta masyarakat untuk ikut menyampaikan informasi tersebut kepada generasi muda.

“Tolong sampaikan ke semua PAC, DPC, orang-orang pemerintah, para bupati, wakil bupati yang kita kenal agar supaya bisa melihat program ini dan menggerakkan anak-anak yang ada di daratan Flores untuk menggunakan kesempatan emas ini,” ujar Prof. Yonson.


Pendidikan yang Dipadukan dengan Keterampilan

Prof. Yonson menjelaskan, konsep program yang ditawarkan tidak hanya berorientasi pada pendidikan akademik.

Menurut dia, pendidikan dikolaborasikan dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan program pemerintah untuk mempersiapkan peserta menghadapi dunia kerja.

Ia menyebut konsep tersebut memungkinkan anak-anak muda memperoleh pendidikan sekaligus keterampilan dan pengalaman kerja.

“Dikolaborasikan dengan LPK, lembaga pelatihan keterampilan dan skill bersama dengan program pemerintah untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi berhasil dan sukses di masa depan,” katanya.

Dalam konsep tersebut, Universitas San Pedro ditempatkan sebagai salah satu pintu pendidikan, sementara pelatihan keterampilan menjadi bagian penting untuk membangun kesiapan peserta menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Prof. Yonson bahkan menggambarkan konsepnya sebagai “kuliah sambil kerja”, sehingga proses pendidikan tidak harus menunggu sampai mahasiswa menyelesaikan seluruh jenjang akademiknya sebelum mengenal dunia kerja.

“Kerja sambil kuliah, kuliah dapat duit, kuliah tetapi sudah sukses,” ujarnya.

St. Pedro Disebut sebagai Jembatan Pendidikan dan Dunia Kerja

Menurut Prof. Yonson, Universitas San Pedro diharapkan menjadi jembatan bagi anak-anak muda yang ingin memperoleh pendidikan sekaligus mengembangkan keterampilan.

Ia juga menyebut adanya berbagai fasilitas yang menurut penjelasannya disiapkan bagi peserta program, termasuk kebutuhan makan, pelatihan, snack, tempat tinggal dan perjalanan.

“Semua diatur. St. Pedro University adalah jembatan emas. Yang mau ke sana harus mendaftarkan diri di St. Pedro sebagai pintu untuk menikmati berkat-berkat yang ada,” katanya.

Prof. Yonson juga menyampaikan bahwa melalui kolaborasi dengan LPK Reformasi St. Pedro, peserta dapat diarahkan untuk memperoleh pengalaman kerja, termasuk peluang kerja di luar negeri.

Ia memberikan gambaran bahwa peserta tidak harus menunggu sampai memperoleh gelar sarjana untuk mulai mendapatkan pengalaman kerja.

“Baru semester 1, baru semester 2, baru semester 3, baru semester 4, belum tamat, belum dapat S1, namun sudah mendapat kerja,” ujar Prof. Yonson.

Pernyataan mengenai kesempatan kerja tersebut, termasuk peluang bekerja di luar negeri, menjadi bagian yang perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai mekanisme, mitra, negara tujuan dan ketentuan penempatannya.


Disebut Ada Dukungan Dana Rp12 Triliun


Dalam penjelasannya, Prof. Yonson juga menyebut adanya dana yang telah disiapkan dengan nilai Rp12 triliun untuk mendukung program tersebut.


“Dana yang sudah disiapkan 12 triliun itu sudah ada untuk anak-anak kita. Tinggal saja apakah anak-anak dan orang tua mau melihat kesempatan yang ada dan menggunakan kesempatan emas yang ada,” tuturnya.


KILAS INFO menempatkan angka tersebut sebagai pernyataan Prof. Yonson. Untuk memastikan besaran, sumber pendanaan, mekanisme penyaluran dan penerima manfaat, diperlukan dokumen atau keterangan resmi dari pihak penyelenggara dan instansi terkait.

Hal serupa berlaku terhadap informasi mengenai fasilitas pendidikan, pelatihan, tempat tinggal, perjalanan maupun kesempatan kerja yang disebutkan dalam program.


Ketua DPD G-BRAN NTT: Jangan Sampai Anak Muda Kehilangan Kesempatan


Sementara itu, Ketua DPD G-BRAN NTT, CHAROLUS KOPONG KOTEN, SE, menempatkan program G-BRAN NTT Peduli Pendidikan sebagai bagian dari upaya organisasi untuk memperluas akses informasi mengenai pendidikan dan keterampilan bagi generasi muda.

Menurut Charolus, pendidikan perlu dipandang tidak hanya sebagai upaya memperoleh gelar akademik, tetapi juga sebagai proses mempersiapkan generasi muda agar memiliki kompetensi dan kesiapan memasuki dunia kerja.

“G-BRAN NTT melihat pendidikan sebagai salah satu jalan penting untuk membuka masa depan generasi muda. Karena itu, informasi mengenai peluang pendidikan, pelatihan keterampilan dan kesempatan kerja perlu disampaikan seluas-luasnya kepada anak-anak muda NTT,” demikian narasi sikap yang disampaikan dalam konteks program tersebut.

Charolus juga mendorong jajaran G-BRAN NTT di berbagai tingkatan agar ikut membantu menyebarluaskan informasi mengenai kesempatan pendidikan tersebut kepada masyarakat.

Hal itu dinilai penting agar anak-anak muda yang memiliki kemauan untuk belajar dan meningkatkan keterampilan tidak kehilangan kesempatan hanya karena tidak memperoleh informasi mengenai program yang tersedia.


Dari Flores, Sumba, Rote hingga Timor

Program ini diharapkan tidak hanya menjangkau masyarakat di Flores.

Prof. Yonson menyampaikan harapannya agar informasi mengenai kesempatan pendidikan dan pelatihan tersebut dapat menjangkau masyarakat di Sumba, Rote, Timor dan berbagai wilayah lainnya di NTT.

“Semoga ini menjadi berita yang baik untuk basudara, keluarga, teman, jemaat yang ada di daratan Flores, bahkan di daratan Sumba, di daratan Rote, Timor, dan di seluruh daerah yang ada di provinsi tercinta kita, NTT,” katanya.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa program diarahkan untuk menjangkau masyarakat NTT secara lebih luas, dengan pendidikan dan keterampilan sebagai pintu masuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Tidak Sekadar Gelar, Tetapi Ilmu, Pengalaman dan Karakter

Prof. Yonson menekankan bahwa tujuan akhir dari program tersebut bukan semata-mata menghasilkan lulusan dengan gelar akademik.

Menurutnya, peserta diharapkan memperoleh berbagai pengalaman dan kemampuan yang dapat menjadi modal ketika mereka memasuki dunia kerja maupun ketika kembali ke daerah asal.

“Saya yakin anak-anak yang kita siapkan ini mereka bukan saja dapat berkat, dapat uang, tapi juga dapat ilmu, dapat pengalaman, dapat kerja, dapat relasi, dapat juga sarjana, dapat sertifikat, dan bahkan dapat perubahan mindset dan disiplin kerja yang tinggi,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda yang mengikuti pendidikan dan pelatihan tersebut nantinya dapat kembali ke kampung halaman dengan membawa pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program.

“Tatkala mereka balik ke negara, ke kampung halaman, ke kota, kabupaten, dan provinsi tercintanya di NTT, mereka menjadi pemuda-pemudi yang berkualitas, yang bermutu tinggi, yang bermoral tinggi,” kata Prof. Yonson.



Ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter dalam proses pembentukan generasi muda.



Menurutnya, pembelajaran karakter dan disiplin kerja yang diberikan melalui LPK Reformasi St. Pedro diharapkan dapat menjadi bagian dari pembentukan sumber daya manusia NTT yang memiliki kompetensi sekaligus integritas.


G-BRAN NTT Dorong Kolaborasi


Bagi G-BRAN NTT, pendidikan merupakan salah satu instrumen penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.

Karena itu, kolaborasi antara organisasi masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga pelatihan dan dunia kerja menjadi penting agar peluang pendidikan tidak berhenti pada proses belajar di ruang kelas, tetapi dapat berlanjut menjadi keterampilan, pengalaman dan kesempatan kerja.

G-BRAN NTT Peduli Pendidikan diharapkan menjadi ruang untuk memperluas informasi sekaligus mendorong masyarakat agar lebih aktif mencari dan memanfaatkan kesempatan pendidikan yang tersedia.

Pada akhirnya, program tersebut diarahkan pada satu tujuan besar: mempersiapkan generasi muda NTT yang memiliki pendidikan, keterampilan, pengalaman, karakter dan kesiapan menghadapi dunia kerja.