BREAKING NEWS

🇮🇩 INDONESIA–JEDDAH: Perang Baru Di Pasar Umrah?

 

Ketika penerbangan nonstop, A330 dan perebutan gateway mulai mengubah peta bisnis perjalanan ke Tanah Suci

KILAS INFO AVIATION
Berita • Analisis • Insight
Membaca Arah Langit, Memahami Masa Depan.

Pemimpin Redaksi: Mahdi Priatna

INDONESIA–JEDDAH: PERANG BARU DI PASAR UMRAH?

JAKARTA — Pasar penerbangan Umrah Indonesia menuju Arab Saudi memasuki fase yang semakin kompetitif. Persaingan tidak lagi semata-mata mengenai siapa yang mampu menawarkan harga tiket paling rendah, tetapi mulai bergeser kepada siapa yang mampu menyediakan kapasitas besar, penerbangan nonstop, frekuensi yang konsisten, jaringan distribusi travel yang kuat, serta akses dari kota-kota utama Indonesia menuju Jeddah.

Perubahan tersebut terlihat dari semakin banyaknya pilihan penerbangan langsung dari Indonesia ke Jeddah.

Pada 2026, misalnya, Lion Air mengoperasikan penerbangan nonstop Umrah dari sejumlah kota menggunakan armada Airbus A330. Dari Surabaya, Lion Air mengumumkan delapan penerbangan nonstop per minggu menuju Jeddah dengan A330 berkapasitas hingga 436 penumpang kelas ekonomi. Lion Air

Sementara itu, penerbangan langsung juga tersedia dari Kualanamu, Batam dan Padang menuju Jeddah. Lion Air

Artinya, Jeddah semakin terhubung langsung dengan berbagai gateway Indonesia.

Dan di sinilah pertanyaan besarnya:

Apakah pasar Umrah Indonesia sedang memasuki babak baru persaingan antar-maskapai?

BUKAN LAGI SEKADAR JAKARTA–JEDDAH

Selama bertahun-tahun, Jakarta menjadi salah satu pusat utama keberangkatan jamaah Indonesia menuju Arab Saudi.

Namun pola pasar mulai berkembang.

Surabaya memiliki catchment area Jawa Timur yang sangat besar. Kualanamu melayani Sumatera Utara dan sekitarnya. Batam memiliki potensi melayani Kepulauan Riau, Riau dan sebagian wilayah Sumatera. Padang memiliki pasar Sumatera Barat dan wilayah sekitarnya.

Lion Air sendiri pada 2025 pernah mengumumkan layanan Umrah dari 10 kota di Indonesia dengan total 70 penerbangan pulang-pergi setiap minggu, menggunakan kombinasi pesawat Airbus A330-300, A330-900neo dan Boeing 737. Lion Air

Ini memberikan satu indikasi penting:

pasar Umrah Indonesia tidak hanya membutuhkan kursi penerbangan, tetapi membutuhkan jaringan gateway.

Maskapai yang mampu mendekatkan titik keberangkatan kepada jamaah berpotensi mengurangi kebutuhan perjalanan domestik sebelum keberangkatan internasional.

A330 MENJADI SENJATA UTAMA

Ada satu faktor yang sangat menarik dalam perkembangan ini:

Airbus A330 semakin dominan d

alam penerbangan Umrah jarak jauh.

Mengapa?

Karena karakteristik pasar Umrah membutuhkan kemampuan mengangkut jamaah dalam jumlah besar secara langsung.

Sebagai contoh, Lion Air menyebut konfigurasi A330 mereka dapat mencapai hingga 433–436 kursi kelas ekonomi, tergantung pesawat dan konfigurasi yang digunakan. Lion Air

Secara sederhana:

1 A330 × 400+ kursi = kapasitas besar dalam satu keberangkatan.

Namun angka kapasitas bukan berarti otomatis menjadi keuntungan.

Tantangan sebenarnya adalah:

  • berapa tingkat keterisian kursi;
  • berapa harga seat yang dapat dicapai;
  • berapa biaya fuel;
  • berapa biaya aircraft lease;
  • berapa biaya crew;
  • berapa airport charges;
  • berapa biaya handling;
  • bagaimana mendapatkan slot;
  • bagaimana mendapatkan traffic rights;
  • dan yang paling penting, siapa yang mengisi kursi tersebut?

Di sinilah hubungan antara maskapai dan PPIU/travel Umrah menjadi sangat penting.

PERTARUNGAN SESUNGGUHNYA ADA DI DISTRIBUSI

Pesawat boleh tersedia.

Slot boleh tersedia.

Rute boleh tersedia.

Tetapi tanpa jamaah, A330 tetap menjadi aset mahal yang harus dibayar setiap hari.

Karena itu, bisnis penerbangan Umrah mempunyai karakter berbeda dengan penerbangan reguler biasa.

Maskapai membutuhkan ecosystem partner:

Maskapai → PPIU → Travel Agent → Jamaah → Hotel → Ground Handling → Transportasi Saudi → Return Flight

Pemain yang mampu mengintegrasikan rantai tersebut mempunyai pilihan lebih banyak dalam menentukan model bisnis.

Dan karena itu pula, persaingan pasar Umrah tidak dapat dibaca hanya dari jumlah pesawat.

TERMINAL 2F MENAMBAH DIMENSI BARU

Perubahan infrastruktur di Soekarno-Hatta juga penting diperhatikan.

Kementerian Perhubungan telah menyiapkan Terminal 2F sebagai terminal khusus pelayanan Haji dan Umrah. Pemerintah menyebut terminal tersebut dirancang dengan proses yang lebih terintegrasi untuk pelayanan jamaah. DepHub

Pada musim Haji 2026, Terminal 2F juga digunakan untuk keberangkatan jamaah Haji dan dilengkapi fasilitas Mecca Route untuk mendukung proses keimigrasian Arab Saudi di Indonesia. DepHub

Bagi industri Umrah, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bahwa infrastruktur bandara juga mulai diarahkan untuk menangani arus jamaah secara lebih khusus dan terintegrasi.

Dengan demikian, kompetisi penerbangan Umrah ke depan tidak hanya terjadi di udara.

Ia juga terjadi di:

terminal → slot → CIQ → handling → travel network → Saudi ground operation.

LALU, DI MANA POSISI RAYANI 2.0?

Di tengah perkembangan tersebut, muncul kembali Rayani Air 2.0 dari Malaysia dengan model bisnis yang berbeda dari era Rayani Air sebelumnya.

Bernama melaporkan pada 20 September 2026 bahwa Rayani Air 2.0 merencanakan fokus pada penerbangan carter Haji dan Umrah dan menargetkan operasi menggunakan Airbus A330-300, dengan rencana mulai beroperasi pada 2027. BERNAMA

Dalam konteks Indonesia, dokumen LOI Rayani 2.0 bertanggal 25 September 2026 menunjukkan adanya penjajakan kerja sama dengan PT Sriwijaya Air untuk pengoperasian dua Airbus A330-300 menggunakan AOC Sriwijaya Air. Dokumen tersebut meminta pembahasan mengenai struktur kerja sama AOC, tanggung jawab operasional, teknis, keselamatan, maintenance, crew, insurance, slot, traffic rights dan management fee. LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma… LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma…

LOI tersebut juga menyebut sasaran operasi Umrah/Haji dan periode awal Oktober 2026 hingga Juli 2027, tetapi secara eksplisit masih berada dalam tahap pembahasan, due diligence dan persetujuan regulator maupun pihak terkait. LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma… LOI_Rayani_2.0_Sriwijaya_AOC_Ma…

Dengan demikian, Rayani 2.0 belum dapat diposisikan sebagai operator Indonesia yang sudah final.

Namun penjajakan tersebut menunjukkan sesuatu yang jauh lebih menarik:

Pasar Umrah Indonesia mulai menarik perhatian pemain regional yang melihat peluang operasi berbadan lebar dari Indonesia menuju Arab Saudi.

CGK ATAU SUB?

Jika Rayani 2.0 benar-benar masuk ke pasar Indonesia, dua gateway yang menarik untuk diamati adalah:

CGK — Jakarta

Keunggulannya:

  • catchment market nasional;
  • jaringan domestik besar;
  • basis PPIU dan travel sangat luas;
  • akses ke pasar Jabodetabek;
  • infrastruktur internasional terbesar.

Tetapi tantangannya juga besar:

kompetisi sudah sangat ketat.

Lion Air sendiri telah menawarkan penerbangan Umrah nonstop CGK–JED hingga delapan kali seminggu pada layanan yang diumumkan 2025, menggunakan A330. Lion Air

SUB — Surabaya

SUB menawarkan karakter berbeda.

Surabaya tidak hanya berbicara mengenai Kota Surabaya.

Catchment area Juanda mencakup berbagai wilayah Jawa Timur.

Lion Air pada Juli 2026 mengoperasikan delapan penerbangan nonstop mingguan SUB–JED menggunakan A330, dan secara eksplisit menyebut cakupan pasar dari berbagai wilayah Jawa Timur. Lion Air

Ini membuat Surabaya menjadi salah satu medan penting dalam persaingan penerbangan Umrah.

JEDDAH ATAU MADINAH?

Ini juga akan menjadi pertanyaan penting.

Penerbangan Umrah tidak selalu berakhir pada satu pola perjalanan.

Ada jamaah yang:

Indonesia → Jeddah → Makkah → Madinah → Jeddah → Indonesia

Tetapi ada pula pola:

Indonesia → Madinah → Makkah → Jeddah → Indonesia

Karena itu, maskapai yang masuk ke pasar Umrah perlu mempertimbangkan bukan hanya harga tiket, tetapi desain itinerary secara keseluruhan.

Apakah penerbangan masuk melalui Jeddah?

Atau Madinah?

Apakah pulang dari kota yang sama?

Atau open jaw?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan berpengaruh terhadap:

  • harga paket;
  • utilisasi pesawat;
  • ground handling;
  • transportasi darat;
  • hotel;
  • jadwal rotasi A330;
  • dan pengalaman jamaah.

JADI, APAKAH INI “PERANG”?

Belum tentu.

Tetapi tanda-tanda persaingan yang semakin intensif memang terlihat.

Pertarungannya kemungkinan bukan semata:

Maskapai A vs Maskapai B.

Melainkan:

MODEL A

Maskapai + Travel

melawan

MODEL B

Maskapai + PPIU + jaringan travel

melawan

MODEL C

Integrated Umrah Ecosystem

yang menggabungkan:

Aircraft + AOC + Airport + Travel + Hotel + Visa + Ground Handling + Saudi Partner.

Dan model terakhir inilah yang menarik untuk diamati dalam beberapa tahun ke depan.

KUNCI PERMAINANNYA: LOAD FACTOR

Pada akhirnya, industri penerbangan mempunyai hukum yang sederhana.

Pesawat harus terbang.

Tetapi kursinya harus terisi.

Misalnya sebuah A330 memiliki sekitar 400 kursi.

Jika 400 kursi terjual, economics-nya berbeda jauh dibandingkan apabila hanya 250 kursi yang terisi.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan:

“Siapa yang memiliki A330?”

Tetapi:

“Siapa yang mampu mengisi A330 secara konsisten?”

Dan jawabannya sangat mungkin berada di tangan jaringan PPIU dan travel agent.

KILAS INFO AVIATION: EMPAT HAL YANG AKAN KAMI PANTAU

Dalam perkembangan pasar Indonesia–Jeddah ini, KILAS INFO AVIATION akan melihat sedikitnya empat indikator:

1. CAPACITY
Berapa banyak kursi A330 yang masuk ke pasar?

2. FREQUENCY
Seberapa sering pesawat terbang?

3. DISTRIBUTION
Siapa yang menguasai jaringan PPIU dan travel?

4. ECONOMICS
Apakah penerbangan tersebut mampu menghasilkan load factor dan yield yang sehat?

Karena pada akhirnya, jumlah pesawat bukanlah ukuran keberhasilan sebuah rute.

KESIMPULAN

Pasar Umrah Indonesia sedang mengalami perubahan.

Penerbangan nonstop semakin berkembang.
A330 semakin banyak digunakan.
Gateway semakin tersebar.
Terminal khusus jamaah mulai diperkuat.
Dan pemain baru mulai melihat peluang di pasar Indonesia.

Dalam konteks tersebut, kemunculan Rayani 2.0 menjadi salah satu perkembangan yang patut diamati—bukan karena Rayani otomatis akan memenangkan pasar, tetapi karena masuknya pemain baru dapat menjadi indikator bahwa pasar penerbangan Umrah Indonesia memiliki daya tarik regional.

Pertanyaan berikutnya bukan lagi:

“Apakah ada pasar Umrah?”

Tetapi:

“Siapa yang mampu membangun model operasi paling efisien untuk melayani pasar tersebut?”

Dan jawabannya akan ditentukan bukan hanya oleh pesawat.

AOC, regulator, slot, traffic rights, airport, PPIU, travel agent, Saudi partner, load factor dan economics pesawat akan menentukan siapa yang mampu bertahan dalam permainan ini.

KILAS INFO AVIATION akan membedahnya satu per satu.