BREAKING NEWS

August Hamonangan Apresiasi Kader Jumantik RW 02 Tegal Parang: “NYAMUK SEGAN MAMPIR”

 

Di tengah 1.363 kasus DBD di Jakarta Selatan hingga Oktober 2026, warga memperkuat gerakan Kampung Bebas Jentik.

JAKARTA, KILASINFO.NET — Upaya mencegah demam berdarah dengue (DBD) tidak cukup hanya mengandalkan penyemprotan atau pengobatan ketika warga sudah terjangkit. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan tempat tinggal, melalui pemeriksaan jentik secara rutin dan keterlibatan aktif masyarakat.

Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan penilaian Lomba Kampung Bebas Jentik (KBJ) Tingkat Kota Administrasi Jakarta Selatan di RW 02 Kelurahan Tegal Parang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jumat (30/10/2026).

Anggota DPRD DKI Jakarta, August Hamonangan, S.H., M.H., hadir dalam kegiatan tersebut sebagai undangan resmi dari Kelurahan Tegal Parang. Acara berlangsung di kediaman Ketua RW 02, Jalan Mampang Prapatan VI RT 03/RW 02.

Dalam sambutannya, August menyampaikan apresiasi kepada pengurus RT, RW, kader Jumantik, dan masyarakat yang telah mempersiapkan wilayah untuk mengikuti penilaian.

Ia mengawali sambutan dengan pantun yang mengundang tawa dan tepuk tangan warga.

“Ke Pasar Mampang membeli batik. Cakep. Pulangnya mampir ke sini. Selamat pagi bapak ibu yang cantik. Panas. Insya Allah juara. Amin.”

Suasana kegiatan pun berlangsung hangat dan penuh keakraban.

“NYAMUK SEGAN MAMPIR”, SEBUAH APRESIASI UNTUK WARGA

August mengaku bangga melihat persiapan masyarakat RW 02 Tegal Parang. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa kerja keras warga dapat membawa wilayah tersebut meraih hasil terbaik dalam penilaian.

Bahkan, ia menyebut kehadirannya di Tegal Parang menjadi prioritas sebelum mengikuti agenda rapat di Komisi C DPRD DKI Jakarta.

“Saya sangat bangga dan yakin. Sebelum ikut rapat di Komisi C, saya dapat panggilan yang paling penting harus hadir di sini,” ujar August.

Dalam kesempatan itu, ia juga melontarkan candaan mengenai kondisi lingkungan RW 02 yang menurut pengamatannya sudah menunjukkan kesiapan menghadapi penilaian Kampung Bebas Jentik.

“Rasa-rasanya nyamuk jentik segan, belum sampai ke tempat RW 02 ini. Di depan itu kayaknya sudah merasakan, kita kayaknya nggak mampir ke mari deh, karena ini kampung bebas (jentik),” katanya disambut tawa warga.

Pernyataan tersebut menjadi bentuk apresiasi dan ungkapan optimisme August. Namun, status bebas jentik secara teknis tetap harus ditentukan melalui hasil pemeriksaan dan pengukuran indikator kesehatan lingkungan.

KADER JUMANTIK DAN TANTANGAN MEMERIKSA RUMAH WARGA

Lebih lanjut, August menyoroti pekerjaan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang menurutnya tidak selalu mudah.

Salah satu tantangan yang dihadapi kader adalah ketika harus meminta izin masuk ke rumah warga untuk memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

Ia mengapresiasi keterlibatan pengurus RT dan RW yang mendukung para kader dalam menjalankan pemeriksaan secara menyeluruh.

“Apa yang sudah dilakukan oleh para RT, didukung RW dan jajaran RT RW 02 ini memang benar-benar patut kita apresiasi. Kader Jumantik itu kadang mau masuk ke rumah banyak tantangan, tapi saya yakin di RW 02 Tegal Parang pasti mempersilakan, sampai diperiksa sampai di bawah kulkas,” ujar August.

Pemeriksaan hingga bagian bawah kulkas yang disebut August menggambarkan pentingnya ketelitian dalam mencari tempat yang berpotensi menampung air dan menjadi lokasi perkembangbiakan jentik.

Pekerjaan kader Jumantik tidak berhenti pada pemeriksaan fisik. Mereka juga berperan menyampaikan edukasi dan mengingatkan warga agar menjaga kebersihan tempat penampungan air serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin.

DBD MASIH MENJADI PERHATIAN DI JAKARTA SELATAN

Apresiasi terhadap kader Jumantik di Tegal Parang memiliki konteks kesehatan yang lebih luas.

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menyampaikan bahwa hingga Oktober 2026 tercatat sebanyak 1.363 kasus DBD di wilayah Jakarta Selatan.

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Mampang Prapatan mencatat 199 kasus. Angka ini menunjukkan bahwa pencegahan DBD tetap membutuhkan perhatian, termasuk keterlibatan masyarakat di tingkat RT dan RW.

Data tersebut merupakan angka tingkat kecamatan, bukan jumlah kasus khusus di Kelurahan Tegal Parang atau RW 02.

Di tengah kondisi tersebut, kegiatan Kampung Bebas Jentik menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kesadaran masyarakat bahwa pencegahan DBD harus dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar.

BUKAN SEKADAR LOMBA, TETAPI GERAKAN BERKELANJUTAN

Secara kesehatan masyarakat, keberhasilan pengendalian jentik dapat dilihat melalui Angka Bebas Jentik (ABJ).

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa ABJ minimal 95 persen merupakan tingkat yang diharapkan dapat membantu mencegah atau mengurangi penularan DBD.

Untuk mencapai kondisi tersebut, masyarakat perlu menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui gerakan 3M Plus, yaitu:

  1. Menguras tempat penampungan air secara rutin.

  2. Menutup rapat tempat penampungan air.

  3. Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Kegiatan tersebut dilengkapi berbagai langkah tambahan, termasuk pemeriksaan lingkungan secara berkala, pemeliharaan saluran air, dan perlindungan diri dari gigitan nyamuk.

Gerakan satu rumah satu Jumantik juga menjadi pendekatan penting untuk membangun tanggung jawab bersama dalam memantau jentik di lingkungan keluarga.

Karena itu, keberhasilan Kampung Bebas Jentik tidak semestinya hanya diukur dari kesiapan menghadapi lomba. Konsistensi kegiatan setelah penilaian justru menjadi bagian penting dari keberhasilan program.

ANALISIS KILAS INFO: KESEHATAN LINGKUNGAN DIMULAI DARI PARTISIPASI WARGA

Ada pesan penting dari kegiatan di RW 02 Tegal Parang.

Pertama, pemberantasan sarang nyamuk tidak dapat dibebankan hanya kepada petugas kesehatan. Keterlibatan RT, RW, kader Jumantik, dan keluarga merupakan bagian penting dalam membangun sistem pencegahan berbasis lingkungan.

Kedua, kesadaran warga untuk mempersilakan kader melakukan pemeriksaan di dalam rumah menjadi faktor pendukung. Tempat yang luput dari perhatian, termasuk wadah air kecil atau bagian tersembunyi di sekitar perabot rumah, tetap perlu diperiksa.

Ketiga, program Kampung Bebas Jentik harus berkelanjutan. Jangan sampai kegiatan dan pemeriksaan hanya intensif ketika ada lomba, kemudian kembali berkurang setelah penilaian selesai.

Keempat, pemerintah kelurahan, puskesmas, dan masyarakat perlu bekerja sama memastikan hasil pemeriksaan dicatat, dievaluasi, dan ditindaklanjuti. Data mengenai ABJ dan temuan jentik di setiap wilayah menjadi penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Dengan demikian, penghargaan dalam sebuah lomba seharusnya menjadi pemicu untuk mempertahankan kebiasaan hidup bersih dan sehat, bukan menjadi tujuan akhir.

AUGUST SAMPAIKAN APRESIASI KEPADA JAJARAN PEMERINTAH DAN KADER

Di akhir sambutannya, August menyampaikan terima kasih kepada jajaran Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan, Dinas Kesehatan, serta seluruh kader yang telah terlibat dalam upaya pencegahan DBD melalui gerakan Kampung Bebas Jentik.

Kehadirannya dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memberikan apresiasi secara langsung kepada masyarakat yang menjalankan upaya kesehatan lingkungan di tingkat permukiman.

Sementara itu, hasil akhir penilaian dan peringkat RW 02 Tegal Parang dalam Lomba Kampung Bebas Jentik Tingkat Kota Administrasi Jakarta Selatan masih menunggu pengumuman resmi.

KILAS INFO menilai bahwa ukuran keberhasilan gerakan Kampung Bebas Jentik bukan hanya penghargaan yang diperoleh, tetapi juga kemampuan warga mempertahankan lingkungan yang sehat dan mencegah perkembangbiakan nyamuk secara konsisten.

Sebab, dalam upaya melindungi masyarakat dari DBD, kemenangan sesungguhnya adalah ketika lingkungan tetap terjaga dan warga semakin terlindungi.

KILAS INFO — Berita • Analisis • Insight
Membaca Arah Langit, Memahami Masa Depan.