BREAKING NEWS

🇮🇩 Mengapa Surabaya Menjadi Medan Pertempuran Umrah?

 


Juanda Semakin Padat, Dhoho Kediri Menunggu Kesempatan Menjadi Gateway Baru

KILAS INFO AVIATION
Berita • Analisis • Insight

Membaca Arah Langit, Memahami Masa Depan.

SURABAYA —

Peta penerbangan Umrah Indonesia sedang memasuki fase yang menarik.

Surabaya, melalui Bandara Internasional Juanda, semakin menonjol sebagai salah satu gateway utama penerbangan Umrah dari Jawa Timur. Penerbangan langsung Surabaya–Jeddah dengan pesawat berbadan lebar terus menjadi bagian penting dari pasar tersebut.

Namun di balik pertumbuhan itu muncul satu persoalan strategis:

Seberapa jauh Juanda masih mampu menampung pertumbuhan demand Umrah Jawa Timur?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kapasitas bandara, slot penerbangan, terminal, ground handling, serta infrastruktur pendukung lainnya harus berbagi dengan seluruh aktivitas penerbangan komersial Juanda.

Maka muncul pertanyaan berikutnya:

Mengapa tidak Dhoho Kediri?

✈️ JUANDA: PASAR BESAR, TETAPI TEKANAN KAPASITAS JUGA BESAR

Tidak ada keraguan bahwa Juanda memiliki posisi penting.

Bandara ini memiliki konektivitas, infrastruktur, akses transportasi dan ekosistem penerbangan yang sudah terbentuk.

Untuk pasar Umrah, keuntungan Juanda semakin jelas ketika airline dapat menawarkan penerbangan nonstop Surabaya–Jeddah menggunakan widebody.

Lion Air, misalnya, pada Juli 2026 mengumumkan delapan penerbangan nonstop per minggu SUB–JED menggunakan Airbus A330 dengan kapasitas hingga 436 kursi ekonomi.

Namun pertumbuhan demand selalu membawa konsekuensi.

Semakin banyak airline, semakin banyak frekuensi.

Semakin banyak frekuensi, semakin besar kebutuhan:

slot.

parking stand.

terminal capacity.

ground handling.

baggage handling.

immigration.

customs.

Dan seluruh sistem pendukung lainnya.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar:

“Apakah masih ada pasar Umrah dari Surabaya?”

Pasarnya ada.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Di mana tambahan capacity berikutnya harus ditempatkan?”

🕌 PEMERINTAH SENDIRI MENGAKUI JUANDA SANGAT PADAT

Ini bukan sekadar analisis media.

Pada Juli 2026, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menyampaikan rencana mengaktifkan Bandara Dhoho Kediri untuk mengurangi beban Bandara Juanda dan Asrama Haji Surabaya.

Pemerintah menilai Dhoho memiliki fasilitas dan kapasitas yang memadai, termasuk kemampuan melayani pesawat berbadan lebar. Jatim Now

Pada musim Haji 2026, Embarkasi Surabaya sendiri melayani 116 kloter.

Tingginya aktivitas tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mempertimbangkan distribusi keberangkatan melalui Dhoho. detikcom

Artinya, gagasan menggunakan Dhoho bukan muncul karena Juanda tidak penting.

Justru sebaliknya.

Karena Juanda terlalu penting dan bebannya semakin besar, diperlukan gateway alternatif.

🛫 DHOHO BUKAN BANDARA KECIL

Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman.

Dhoho bukan sekadar bandara regional dengan runway pendek.

Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menunjukkan Dhoho memiliki runway 3.300 x 45 meter, klasifikasi 4E, dan critical aircraft hingga Boeing 777-300ER. Bandara tersebut juga memiliki kategori PKP-PK 8. Hubud Kemenhub

Dengan kata lain:

secara infrastruktur dasar, Dhoho mempunyai karakteristik yang memungkinkan pembahasan penerbangan berbadan lebar.

Tetapi harus ditegaskan:

layak secara infrastruktur tidak otomatis berarti sebuah rute Umrah langsung akan feasible secara komersial.

Masih ada persoalan:

  • traffic rights;
  • regulatory approvals;
  • airline;
  • slot;
  • ground handling;
  • Saudi-side handling;
  • PPIU;
  • passenger distribution;
  • load factor;
  • pricing;
  • dan economics penerbangan.

Justru seluruh aspek inilah yang harus dibangun.

🌏 DHOHO MEMILIKI PASARNYA SENDIRI

Keuntungan Dhoho bukan hanya karena mampu mengurangi beban Juanda.

Dhoho mempunyai catchment area sendiri.

Kediri dan kawasan Mataraman dapat menjadi basis konsolidasi jamaah dari sejumlah wilayah seperti:

Kediri – Madiun – Nganjuk – Tulungagung – Blitar – Trenggalek – Ponorogo – Pacitan

dan wilayah lain yang secara geografis lebih dekat atau lebih efisien menuju Dhoho dibandingkan harus menuju Surabaya.

Pemerintah sendiri menyiapkan Dhoho sebagai alternatif embarkasi Haji untuk melayani sekitar 10–12 kabupaten/kota kawasan Mataraman, dengan tujuan antara lain mengurangi beban Juanda dan memperpendek perjalanan jamaah dari wilayah tersebut. https://kediri.inews.id/

Maka konsepnya sebenarnya sangat sederhana:

Jangan selalu membawa jamaah menuju airport.

Bawa airport lebih dekat kepada demand.

🔥 DHOHO SEHARUSNYA BUKAN PESAING JUANDA

Ini bagian yang menurut KILAS INFO AVIATION paling penting.

Dhoho tidak harus diposisikan sebagai:

DHOHO versus JUANDA.

Keduanya justru dapat memiliki fungsi berbeda.

JUANDA

National / metropolitan gateway

dengan:

  • konektivitas tinggi;
  • network airline;
  • passenger volume;
  • established Umrah ecosystem.

DHOHO

Regional pilgrimage gateway

dengan:

  • catchment Mataraman;
  • potensi konsolidasi demand;
  • ruang pengembangan;
  • dan peluang mengurangi tekanan Juanda.

Dengan pendekatan tersebut:

JUANDA + DHOHO

bukan kompetisi.

Melainkan:

NETWORK STRATEGY.

🕌 MENGAPA UMRAH LAYAK MENJADI TARGET AWAL?

Ada alasan komersial mengapa Umrah menarik untuk Dhoho.

Umrah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan penerbangan scheduled regular.

Program Umrah dapat dikonsolidasikan melalui:

PPIU → travel agent → charter/airline → airport → Saudi ground operation.

Artinya, demand dapat dikumpulkan terlebih dahulu.

Ini berbeda dengan mengandalkan passenger secara individual seperti penerbangan regular point-to-point.

Jika sejumlah PPIU di wilayah Mataraman mampu mengonsolidasikan jamaah dalam jumlah tertentu, maka terbuka kemungkinan untuk mengembangkan:

DHO–JED nonstop

atau skema penerbangan lain yang secara komersial lebih sesuai.

Tetapi sekali lagi:

Ini merupakan peluang yang harus diuji dengan data demand dan economics, bukan otomatis berarti rute tersebut layak dibuka.

💺 MASALAHNYA BUKAN PESAWAT

Pesawat sebenarnya bukan persoalan utama.

A330 tersedia.

A321 tersedia.

Bahkan aircraft lain dapat digunakan sesuai kebutuhan.

Pertanyaan terpenting adalah:

Berapa jamaah yang dapat dikonsolidasikan secara konsisten?

Misalnya sebuah A330 memiliki kapasitas sekitar 400+ kursi.

Maka operator tidak cukup hanya bertanya:

“Apakah Dhoho mampu menerima A330?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Apakah pasar Dhoho mampu mengisi A330 secara sustainable?”

Karena:

Runway tidak menghasilkan revenue.

Jamaahlah yang menghasilkan revenue.


💰 FULL FLIGHT BELUM TENTU FULL PROFIT

Inilah yang sering dilupakan dalam pembahasan penerbangan Umrah.

Pesawat penuh memang terlihat menarik.

Tetapi airline masih harus membayar:

fuel.

lease/ACMI.

crew.

maintenance.

insurance.

airport charges.

navigation.

ground handling.

catering.

Saudi handling.

distribution.

Dan berbagai biaya lainnya.

Maka:

FULL FLIGHT ≠ FULL PROFIT.

Yang harus dihitung adalah:

break-even load factor + yield + operating cost + aircraft utilization.

Itulah sebabnya rencana Dhoho–Jeddah harus dibedah secara komersial sebelum diterjemahkan menjadi keputusan operasi.

⚔️ DAN DI SINILAH “PERTEMPURAN” UMRAH SEBENARNYA

Kompetisi Umrah di Jawa Timur bukan semata-mata:

Lion Air versus airline lain.

Atau:

Juanda versus Dhoho.

Persaingannya jauh lebih kompleks.

Yang sebenarnya diperebutkan adalah:

DEMAND.

Siapa yang memiliki akses kepada jamaah?

Siapa yang memiliki jaringan PPIU?

Siapa yang mampu menyediakan aircraft?

Siapa yang mendapatkan slot?

Siapa yang mempunyai schedule paling sesuai?

Siapa yang mampu menawarkan harga kompetitif?

Dan siapa yang mampu menjaga reliability?

Karena pada akhirnya:

AIRLINE MEMBAWA JAMAAH.

DISTRIBUTION MENGHASILKAN JAMAAH.

RELIABILITY MEMPERTAHANKAN JAMAAH.

🏗️ DHOHO MEMASUKI FASE BARU

Ada satu perkembangan yang sangat penting malam ini.

Mulai 1 Oktober 2026, pengelolaan Bandara Dhoho Kediri secara resmi beralih sepenuhnya kepada PT Surya Dhoho Investama (SDhI) sebagai Badan Usaha Pelaksana dalam skema KPBU.

InJourney Airports dan SDhI menyelesaikan proses transisi pengelolaan tersebut setelah seluruh aspek compliance dan dokumen operasional diselesaikan. detiknews

Kementerian Perhubungan juga menegaskan bahwa berakhirnya KSO dengan InJourney Airports bukan berarti operasional Bandara Dhoho dihentikan. Dhoho tetap menjadi bagian dari sistem transportasi udara nasional. Hubud Kemenhub

Momentum ini menarik.

Karena sekarang pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah Dhoho akan terus ada?”

Tetapi:

“Dhoho akan menjadi apa?”

🇸🇦 DHOHO DAN UMRAH: SEBUAH PELUANG YANG BELUM SELESAI

Kalau Dhoho hanya digunakan untuk penerbangan domestik dengan frekuensi terbatas, maka potensi strategisnya belum sepenuhnya diuji.

Tetapi jika Dhoho dikembangkan sebagai regional pilgrimage gateway, maka muncul kemungkinan baru.

Bayangkan:

Mataraman → Dhoho → Jeddah

dibandingkan:

Mataraman → perjalanan darat → Juanda → Jeddah.

Bagi jamaah, persoalannya bukan hanya tiket pesawat.

Tetapi:

waktu perjalanan menuju airport.

biaya transportasi.

kenyamanan.

konsolidasi rombongan.

kepastian jadwal.

Dan pada akhirnya:

total cost of pilgrimage.

🎙️ PANDANGAN KILAS INFO AVIATION

Capt. Mahdi Prijatna melihat persoalan ini bukan sebagai upaya menggantikan Juanda.

“Kalau Juanda semakin padat, kita jangan hanya berpikir bagaimana menambah penerbangan di Juanda. Kita harus mulai berpikir bagaimana mendistribusikan demand ke gateway lain.”

Menurutnya, Dhoho memiliki peluang untuk mengambil peran tersebut.

“Dhoho tidak harus menjadi pesaing Juanda. Dhoho bisa menjadi complementary gateway untuk Jawa Timur, khususnya wilayah Mataraman. Tetapi syaratnya jelas: harus ada demand yang cukup, distribution yang kuat, airline yang tepat, dan economics yang sehat.”

Dan satu hal yang paling penting:

“Jangan membuka rute hanya karena bandaranya mampu menerima pesawat. Buka rute karena market-nya mampu menopang penerbangan.”

Catatan: kutipan di atas disusun sebagai pandangan editorial Capt. Mahdi untuk kebutuhan naskah KILAS INFO AVIATION; sebaiknya dikonfirmasi kembali jika akan dipublikasikan sebagai kutipan wawancara langsung.

🔎 7 PERTANYAAN BESAR DHOHO

KILAS INFO AVIATION melihat sedikitnya tujuh pertanyaan yang perlu dijawab sebelum Dhoho benar-benar menjadi gateway Umrah:

1. Berapa sebenarnya catchment market Umrah Dhoho?

2. Berapa PPIU yang siap mengonsolidasikan jamaah dari wilayah Mataraman?

3. Apakah tersedia aircraft yang tepat dengan economics yang masuk akal?

4. Bagaimana traffic rights DHO–JED atau DHO–MED?

5. Berapa frequency yang sustainable?

6. Bagaimana Saudi-side handling dan ground operation?

7. Berapa break-even load factor dan minimum selling price?

Jawaban atas tujuh pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengatakan:

“Dhoho bisa didarati widebody.”

🧭 KILAS INFO AVIATION VIEW

Jawa Timur sebenarnya memiliki peluang membangun dual-gateway pilgrimage network.

JUANDA

Sebagai gateway utama dengan ekosistem yang sudah matang.

DHOHO

Sebagai gateway alternatif yang dapat mengonsolidasikan demand Mataraman dan mengurangi tekanan terhadap Juanda.

Konsep ini bahkan dapat dikembangkan lebih jauh.

Bukan:

Juanda atau Dhoho.

Tetapi:

Juanda + Dhoho.

Sebab dalam network aviation modern, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh satu airport.

Yang menentukan adalah:

bagaimana demand didistribusikan ke jaringan.

🇮🇩 KESIMPULAN

Surabaya menjadi salah satu medan penting pasar Umrah karena demand-nya besar, connectivity-nya kuat dan direct Jeddah sudah menjadi bagian dari produk penerbangan dari Juanda.

Tetapi semakin besar demand, semakin besar pula tekanan terhadap gateway yang ada.

Dan di sinilah Dhoho Kediri memperoleh relevansinya.

Bukan sebagai pengganti Juanda.

Bukan pula sebagai proyek simbolik.

Tetapi sebagai kemungkinan:

SECOND PILGRIMAGE GATEWAY OF EAST JAVA.

Potensinya ada.

Infrastrukturnya ada.

Catchment market-nya ada.

Pemerintah juga sudah melihat Dhoho sebagai salah satu solusi untuk mengurangi beban Juanda. Jatim Now

Yang belum terjawab adalah:

siapa yang akan mengisi pesawatnya?

berapa besar demand sebenarnya?

dan apakah economics-nya cukup kuat untuk membuat penerbangan tersebut sustainable?

Karena pada akhirnya:

Bandara menyediakan pintu. Airline menyediakan pesawat. Tetapi market-lah yang menentukan apakah pintu itu akan ramai.

✈️ THE KILAS INFO AVIATION VIEW

“Kalau Juanda sudah semakin padat, jangan hanya mencari slot tambahan. Mungkin sudah waktunya kita mencari gateway tambahan.”

Dan mungkin pertanyaan paling menarik untuk industri penerbangan Jawa Timur bukan lagi:

“Mengapa Dhoho?”

Tetapi:

“Kapan Dhoho mulai serius diperlakukan sebagai bagian dari strategi Umrah Jawa Timur?”


KILAS INFO AVIATION

Berita • Analisis • Insight

Membaca Arah Langit, Memahami Masa Depan.

Pemimpin Redaksi: Mahdi Priatna