BREAKING NEWS

Dari Bukit Duri, PSI Tebet Bangun Kader dari Akar Rumput

 

Sekitar 60 Pengurus DPRt se Tebet Ikuti Sekolah Kader, Belajar Organisasi, Karakter Kepemimpinan hingga Persiapan Verifikasi Partai

JAKARTA — Politik tidak selalu dimulai dari panggung besar. Kadang, ia justru tumbuh dari sebuah ruang sederhana, dari meja-meja kecil tempat para kader duduk bersama, berdiskusi, belajar dan menyamakan langkah.

Suasana itulah yang terlihat dalam kegiatan Sekolah Kader PSI DPC Tebet yang digelar Minggu, 4 Oktober 2026, di Warkop Dalem, Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Sekitar 60 peserta dari DPRt PSI se-Tebet hadir mengikuti kegiatan yang dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus konsolidasi organisasi. Mereka datang dari tingkat ranting—struktur yang berada paling dekat dengan masyarakat.

Kegiatan menghadirkan DPD PSI Jakarta Selatan, yang diwakili Sis Arijani bersama Sis Natasya dari bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK).

Bukan sekadar memberikan materi tentang partai, jajaran OKK membawa peserta masuk lebih jauh pada pertanyaan mendasar: seperti apa sebenarnya kader yang dibutuhkan sebuah organisasi politik dan bagaimana struktur di tingkat paling bawah harus bekerja?

DPRt Bukan Sekadar Nama dalam Struktur

Salah satu materi penting yang disampaikan adalah mengenai struktur organisasi PSI dan posisi DPRt di dalamnya.

Dalam materi PSI 101, struktur partai dijelaskan berjenjang mulai dari DPP, DPW, DPD, DPC hingga DPRt. DPC menjalankan kebijakan partai di tingkat kecamatan sekaligus mengoordinasikan dan membina DPRt. Sementara DPRt menjadi basis terdepan partai di tingkat kelurahan dalam pengorganisasian anggota dan simpatisan serta menyerap aspirasi masyarakat. PSI 101 - Agustus 2026 PSI 101 - Agustus 2026

Pesan ini menjadi penting bagi para peserta Sekolah Kader.

Sebab, kekuatan sebuah organisasi politik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di tingkat pimpinan, tetapi juga oleh seberapa kuat struktur paling bawah memahami tugasnya dan mampu berinteraksi dengan masyarakat.

Dengan kata lain, DPRt bukan sekadar nama dalam struktur organisasi. DPRt adalah wajah partai di tengah warga.

Kader Tidak Cukup Hanya Aktif

Materi OKK juga membawa peserta pada pembahasan mengenai kaderisasi.

PSI memiliki jenjang perkaderan mulai dari Tunas, Dasar, Madya, Paripurna hingga Istimewa. Setiap jenjang memiliki tujuan dan capaian berbeda, dari pengenalan nilai dan dasar perjuangan partai hingga penyiapan kader untuk menjadi pemimpin dan pengambil keputusan strategis. PSI 101 - Agustus 2026

Artinya, menjadi kader bukan sekadar memiliki kartu anggota atau tercatat dalam struktur kepengurusan.

Kaderisasi harus menghasilkan manusia organisasi yang memahami nilai, mampu bekerja, mampu memimpin dan siap menjalankan penugasan.

Di sinilah Sekolah Kader menjadi penting.

Para peserta tidak hanya diajak mengenal struktur, tetapi juga diarahkan untuk memahami bahwa keberadaan mereka di DPRt membawa tanggung jawab yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Tujuh Karakter yang Harus Dimiliki Kader

Salah satu bagian menarik dari materi PSI 101 adalah pembahasan mengenai tujuh karakter kader PSI.

Di antaranya adalah Wani, yaitu keberanian untuk membela rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat; kemudian Wicaksana, Waskita, Pandhita, yang menekankan perpaduan kecerdasan, kebijaksanaan dan kepekaan.

Ada pula nilai Satriya Pinandhita, yang menekankan keberanian menjaga amanah, kebijaksanaan dan keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan. Sementara Nrimo Ing Pandum menekankan etos kerja keras serta sikap ikhlas terhadap hasil perjuangan. PSI 101 - Agustus 2026 PSI 101 - Agustus 2026

Nilai lainnya adalah Eling lan Waspada, Andhap Asor dan Tepa Selira—menekankan sikap mawas diri, rendah hati, menghargai pandangan orang lain serta menjaga cara bertutur dan bertindak. PSI 101 - Agustus 2026

Bagi peserta Sekolah Kader, materi tersebut memberikan perspektif bahwa kader politik idealnya tidak hanya memiliki kemampuan organisasi, tetapi juga memiliki karakter dalam menjalankan amanah.

Dari Ruang Kaderisasi Menuju Kerja Nyata

Materi berikutnya bahkan menyentuh persoalan yang sangat teknis: persiapan verifikasi keanggotaan partai politik.

Dalam bahan simulasi verifikasi PSI Jakarta, peserta diberikan pemahaman mengenai bagaimana memastikan keanggotaan valid, termasuk kesesuaian KTP dan domisili, kepemilikan KTA PSI, surat pernyataan sebagai anggota, nomor telepon yang dapat dihubungi serta memastikan anggota tidak tercatat sebagai anggota partai politik lain. SIMULASI VERIFIKASI PARTAI POLI…

Para kader juga diberikan gambaran mengenai proses verifikasi faktual, ketika KPUD melakukan pengecekan secara langsung terhadap anggota yang dipilih secara acak berdasarkan data yang telah didaftarkan. SIMULASI VERIFIKASI PARTAI POLI…

Bahkan, materi simulasi mencakup persiapan teknis seperti distribusi KTA, dokumentasi anggota, hingga pelaporan melalui sistem yang telah disiapkan.

Untuk DPRt, ini berarti satu hal: kerja organisasi harus rapi sampai ke tingkat kelurahan.

Karena ketika proses verifikasi berlangsung, yang diuji bukan hanya dokumen di atas kertas, tetapi juga kesiapan struktur dan keberadaan anggota di lapangan.

Rosalina: Sekolah Kader Harus Melahirkan Kader yang Siap Bekerja

Dalam kegiatan tersebut, Ketua DPC PSI Tebet, Sis Rosalina, turut memberikan sambutan kepada seluruh peserta.

Kehadiran Rosalina memberikan penekanan bahwa proses kaderisasi harus diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang nyata.

Sekolah Kader tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan berkumpul, mendengarkan materi, kemudian selesai.

Justru setelah kegiatan berakhir, para kader DPRt diharapkan membawa pulang pengetahuan tersebut untuk diterapkan di wilayah masing-masing.

Karena ujian sebenarnya seorang kader bukan ketika duduk di ruang pelatihan, tetapi ketika kembali berada di tengah masyarakat.

60 Peserta, Satu Semangat

Sekitar 60 peserta dari DPRt se-Tebet yang mengikuti Sekolah Kader menjadi gambaran bahwa konsolidasi organisasi di tingkat akar rumput membutuhkan ruang komunikasi dan pembelajaran yang berkelanjutan.

Dari Bukit Duri, pesan yang muncul cukup jelas: politik membutuhkan organisasi, organisasi membutuhkan kader, dan kader membutuhkan kapasitas serta karakter.

Ketika ketiganya berjalan bersama, struktur partai tidak hanya menjadi susunan nama dalam dokumen kepengurusan.

Ia berubah menjadi jaringan manusia yang bekerja, mendengar, bergerak dan hadir di tengah masyarakat.

Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari Sekolah Kader.

Bukan sekadar sekolah untuk menjadi kader.

Tetapi sekolah untuk memahami bagaimana menjadi kader yang mampu bekerja.

KILAS INFO | CATATAN REDAKSI

Sekolah Kader PSI DPC Tebet menarik bukan hanya karena jumlah pesertanya, sekitar kurang lebih 60 orang dari DPRt se-Tebet, tetapi karena materi yang diberikan mempertemukan dua sisi kaderisasi: karakter dan kerja teknis organisasi.

Di satu sisi, kader dibekali nilai keberanian, kebijaksanaan, kepekaan dan kerendahan hati. Di sisi lain, mereka diperkenalkan dengan pekerjaan yang sangat teknis seperti pengelolaan anggota, KTA dan persiapan verifikasi.

Artinya, kaderisasi tidak berhenti pada pembentukan sikap. Ia harus berujung pada kemampuan bekerja.

Dari Warkop Dalem Bukit Duri, sebuah pesan sederhana muncul: organisasi yang kuat selalu dimulai dari kader yang siap bekerja dari bawah.