BREAKING NEWS

Andi Taufan Parenrengi Wafat, Ketum JAMIRA: Sosoknya Sederhana, Rendah Hati, dan Membumi

 KILAS INFO | Berita • Analisis • Insight

MAKASSAR — Kabar duka menyelimuti keluarga besar dan kerabat Andi Taufan Parenrengi. Sosok yang dikenal sederhana, rendah hati, dan dekat dengan masyarakat tersebut wafat pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 14.32 WITA, di Rumah Sakit Paru-Paru, Makassar, Sulawesi Selatan.

Kepergian almarhum menjadi kehilangan bagi keluarga dan orang-orang yang mengenal pribadinya. Di balik kesederhanaan dan sikapnya yang membumi, Andi Taufan merupakan bagian dari keluarga besar yang memiliki keterkaitan sejarah dengan perjuangan Pahlawan Nasional asal Tanah Mandar, Sulawesi Barat, Agung Hajjah Andi Depu.

Ketua Umum Jangkar Media Indonesia Raya (JAMIRA), RM Gusti Haes, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya almarhum. Ia mengenang Andi Taufan sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, mudah bergaul, dan mampu membangun kedekatan dengan masyarakat dari berbagai lapisan sosial.

Menurut Gusti, salah satu hal yang paling membekas dari almarhum adalah sikapnya yang tidak menonjolkan latar belakang keluarga. Ia menjalani kehidupan dengan bersahaja dan menempatkan hubungan antarmanusia di atas status maupun kebesaran nama keluarga.

“Almarhum adalah sosok sederhana, rakyat biasa, supel, dan membumi terhadap rakyat bawah. Jiwa rendah hati itulah yang menyebabkan banyak orang tidak mengetahui bahwa beliau merupakan bagian dari keluarga pejuang yang bersahaja,” kata Gusti.

Kesederhanaan yang Melampaui Nama Besar Keluarga

Bagi Gusti Haes, kepribadian Andi Taufan memperlihatkan bahwa nilai seseorang tidak semata-mata diukur dari asal-usul, gelar, ataupun latar belakang keluarganya. Sikap rendah hati, ketulusan dalam bergaul, dan kemampuan menghargai sesama justru menjadi bagian penting dari warisan kehidupan yang patut dikenang.

Di tengah masyarakat yang kerap mengaitkan kehormatan dengan kedudukan dan nama besar, kesederhanaan almarhum menjadi sisi personal yang membekas bagi orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.

Almarhum tidak perlu terus-menerus memperkenalkan latar belakang keluarganya untuk membangun penghormatan. Kedekatan dengan masyarakat dan sikap yang tidak berjarak menjadi karakter yang dikenang oleh mereka yang mengenalnya.

Bagi keluarga besar JAMIRA, kepergian Andi Taufan juga menjadi momentum untuk kembali merenungkan makna keteladanan, hubungan kekeluargaan, dan tanggung jawab moral dalam menjaga nilai-nilai kebaikan yang diwariskan generasi terdahulu.

Jejak Sejarah Pahlawan Nasional Andi Depu dari Tanah Mandar

Nama Andi Taufan Parenrengi memiliki keterkaitan dengan keluarga besar yang mengenang jasa Agung Hajjah Andi Depu, tokoh perempuan pejuang dari Tanah Mandar yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2018 oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.

Andi Depu merupakan salah satu figur penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Mandar, yang kini menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Barat.

Lahir di lingkungan bangsawan Kerajaan Balanipa, Andi Depu dikenal bukan semata-mata karena kedudukannya dalam lingkungan kerajaan, melainkan terutama karena keberaniannya mengambil sikap untuk mempertahankan kemerdekaan dan menggerakkan rakyat dalam menghadapi kekuatan kolonial.

Salah satu peristiwa yang melekat dalam sejarah perjuangannya adalah keberaniannya mempertahankan Sang Merah Putih ketika tentara Belanda berusaha menurunkan bendera kebangsaan di lingkungan Istana Balanipa pada masa revolusi kemerdekaan.

Bagi Andi Depu, Merah Putih bukan sekadar bendera yang dikibarkan di halaman istana. Bendera itu merupakan lambang kedaulatan, kehormatan, dan tekad rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Perjuangannya juga berkaitan dengan upaya mengorganisasi kekuatan rakyat. Andi Depu terlibat dalam gerakan perjuangan di Mandar, termasuk melalui KRIS Muda Mandar, dalam menghadapi upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.

Perjuangan tersebut berlangsung dalam situasi penuh ancaman, ketika berbagai daerah di Indonesia menghadapi tekanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Andi Depu memilih berdiri bersama rakyat dan Republik Indonesia, sebuah sikap yang kemudian menjadi bagian penting dari warisan sejarah perjuangan bangsa.

Atas jasa dan pengabdiannya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Agung Hajjah Andi Depu pada 8 November 2018 melalui Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018.

Penganugerahan tersebut menjadi pengakuan negara terhadap perjuangan seorang perempuan Mandar yang turut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam konteks inilah, hubungan keluarga dengan seorang tokoh sejarah menghadirkan tanggung jawab untuk terus mengenal, merawat, dan menyampaikan sejarah secara benar kepada generasi berikutnya. Penghormatan terhadap leluhur tidak berhenti pada kebanggaan terhadap nama besar, tetapi juga dapat diwujudkan melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Penghargaan Negara dan Kenangan Keluarga

Menurut keterangan Ketua Umum JAMIRA, Andi Taufan pernah mewakili keluarga dalam menerima penghargaan dari Presiden Joko Widodo sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan perjuangan Andi Depu.

Kenangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan keluarga besar yang memiliki ikatan sejarah dengan perjuangan bangsa. Bagi keluarga, menjaga ingatan tentang para pendahulu bukan hanya berarti mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga memahami nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi penerus.

Bagi Gusti Haes, kepergian Andi Taufan bukan semata-mata kehilangan seorang anggota keluarga besar. Kepergian itu juga meninggalkan kenangan tentang pribadi yang sederhana dan hubungan kemanusiaan yang dibangunnya selama hidup.

“Setiap yang bernyawa pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Kami percaya bahwa kebaikan, ketulusan, dan kenangan yang ditinggalkan almarhum akan tetap hidup di hati keluarga dan orang-orang yang mengenalnya,” ujarnya.

Gusti berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi masa kehilangan ini. Ia juga mendoakan agar Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di sisi-Nya bersama orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

JAMIRA Sampaikan Belasungkawa Mendalam

Atas nama pribadi, Ketua Umum RM Gusti Haes menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Ungkapan duka tersebut juga mewakili segenap pengurus dan keluarga besar Jangkar Media Indonesia Raya (JAMIRA) atas berpulangnya Andi Taufan Parenrengi.

“Atas nama keluarga besar JAMIRA, kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada almarhum serta memberikan kekuatan kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan,” kata Gusti.

Segenap pengurus JAMIRA turut mendoakan agar almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan, serta keikhlasan.

Bagi JAMIRA, momentum duka ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan kepedulian terhadap sesama, terutama ketika keluarga sedang menghadapi kehilangan.

Merawat Warisan Perjuangan, Melanjutkan Nilai Kemanusiaan

Kepergian Andi Taufan Parenrengi menjadi pengingat bahwa setiap kehidupan meninggalkan jejaknya sendiri. Ada jejak yang tercatat dalam dokumen sejarah, ada pula yang hidup melalui ingatan, ketulusan, dan kebaikan yang dirasakan orang-orang di sekitarnya.

Jika Andi Depu dikenang melalui keberanian dan pengabdiannya dalam mempertahankan kemerdekaan, maka Andi Taufan, sebagaimana dikenang oleh Ketua Umum JAMIRA, meninggalkan kesan melalui kesederhanaan dan kedekatannya dengan masyarakat.

Keduanya berada dalam konteks kehidupan yang berbeda. Namun, kisah perjuangan dan keteladanan dapat menjadi ruang refleksi bagi generasi penerus: kehormatan keluarga tidak hanya dijaga dengan mengenang masa lalu, melainkan juga dengan membangun kehidupan yang bermanfaat bagi sesama.

Gusti Haes berharap nilai perjuangan dan pengabdian yang diwariskan para pendahulu, termasuk Pahlawan Nasional Agung Hajjah Andi Depu, terus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk menjaga persatuan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan mengabdi kepada masyarakat serta bangsa Indonesia.

Bagi keluarga besar JAMIRA, penghormatan kepada almarhum merupakan ungkapan kasih, kehilangan, dan doa. Sementara itu, penghormatan terhadap sejarah para pendahulu menjadi pengingat akan pentingnya merawat nilai kebangsaan dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepergian seseorang memang meninggalkan ruang yang tidak mudah diisi kembali. Namun, kenangan tentang kebaikan, sikap rendah hati, dan ketulusan dapat terus hidup melalui orang-orang yang pernah merasakannya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.

Semoga Allah SWT mengampuni almarhum, melimpahkan rahmat kepadanya, memberikan keselamatan dan ampunan, serta menerima seluruh amal kebaikannya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan dianugerahi kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.

Al-Fatihah.

SEGENAP PENGURUS DAN KELUARGA BESAR
JANGKAR MEDIA INDONESIA RAYA (JAMIRA)