BREAKING NEWS

🇮🇩 Dari Desa Menuju Tanah Suci, Qiswa Nusantra Aviasi Kembangkan Konsep “UMRAH BERBASIS DESA” Melalui flyqiswa

PT Qiswa Nusantara Aviasi melihat desa bukan hanya sebagai basis calon jamaah, tetapi sebagai titik awal membangun ekosistem Umrah, jaringan distribusi dan passenger pipeline penerbangan.

JAKARTA — Selama ini pasar perjalanan Umrah di Indonesia banyak berkembang melalui jaringan biro perjalanan, komunitas dan pusat-pusat ekonomi perkotaan. Namun, PT Qiswa Nusantara Aviasi (QNA) melihat peluang lain yang lebih dekat dengan masyarakat: membangun pasar Umrah mulai dari desa.

Gagasan tersebut dikembangkan melalui konsep Qiswa Village Umrah Ecosystem, sebuah model pengembangan pasar yang menempatkan desa sebagai titik awal edukasi, community engagement, pembentukan jaringan Village Agent, pengumpulan qualified leads hingga terbentuknya passenger pipeline bagi ekosistem penerbangan QNA.

Konsep tersebut menjadi salah satu bagian dari strategi pengembangan FlyQiswa.

Dalam dokumen Qiswa Village Umrah Market Activation Plan, QNA secara eksplisit menggambarkan perubahan pendekatan dari “From City-Centric to Village-Centric Umrah Market”. Desa diposisikan bukan sekadar lokasi calon jamaah, tetapi sebagai pusat komunitas, edukasi, informasi, aktivitas sosial dan pembentukan demand.

Momen pertemuan ini, CEO PT Qiswa Nusantara Aviasi, dengan Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI, Ir. H. Ahmad Riza Patria, M.B.A., menjadi momentum yang relevan untuk memperkenalkan gagasan tersebut kepada publik.

Ahmad Riza Patria memang tercatat sebagai Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dalam pemerintahan saat ini.

Namun, pertemuan tersebut tidak serta-merta berarti adanya kerja sama resmi antara QNA dengan Kementerian Desa dan PDT. QNA melihat pertemuan tersebut sebagai bagian dari komunikasi dan penjajakan gagasan mengenai potensi pemberdayaan masyarakat desa melalui ekosistem perjalanan Umrah.

QNA: Desa Bisa Menjadi Titik Awal Perjalanan Umrah

Ardiansyah mengatakan, gagasan Umrah berbasis desa lahir dari kenyataan bahwa Indonesia memiliki masyarakat yang tersebar hingga tingkat desa, sementara akses informasi dan perencanaan perjalanan Umrah belum selalu terstruktur sampai ke tingkat tersebut.

“Kami melihat desa bukan hanya sebagai tempat tinggal masyarakat, tetapi sebagai community base yang memiliki potensi besar untuk membangun demand Umrah secara terorganisasi,” ujar Ardiansyah.

Konsep yang dikembangkan QNA tidak berhenti pada promosi paket perjalanan.

Dalam rancangan QNA, alurnya dibangun mulai dari:

- DESA
- KOMUNITAS
- VILLAGE AGENT
- CALON JAMAAH
- PPIU PARTNER
- SAUDI HOSPITALITY & GROUND SERVICES
- AVIATION / FLYQISWA

Model tersebut dirancang sebagai market development platform, bukan sekadar kampanye penjualan Umrah.

Ardiansyah: Desa Bisa Menjadi “Passenger Pipeline Generator”

Sementara itu, Ardiansyah, Komisaris Utama PT Qiswa Nusantara Aviasi, melihat konsep tersebut dari perspektif yang lebih luas.

Menurut Ardi, kekuatan program bukan hanya pada berapa banyak paket Umrah yang dapat dijual, tetapi pada kemampuan membangun database demand yang nyata dari masyarakat.

“Kami ingin membangun pasar terlebih dahulu secara terukur. Ketika kita mengetahui dari desa mana jamaah berasal, berapa jumlahnya, kapan mereka ingin berangkat, bandara mana yang mereka pilih dan bagaimana pola perjalanan mereka, maka informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi pengembangan konektivitas penerbangan.”

Dalam rancangan QNA, data yang dikembangkan nantinya mencakup antara lain asal jamaah, tujuan perjalanan, waktu perjalanan, ukuran kelompok, preferensi bandara, jadwal, harga dan pola permintaan musiman. Data tersebut diproyeksikan menjadi bahan untuk route planning, capacity planning, aircraft planning dan seat allocation.

Ardi menilai pendekatan tersebut penting karena bisnis penerbangan membutuhkan kepastian demand.

“Bagi kami, FlyQiswa bukan hanya soal menyediakan penerbangan. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun demand yang sehat dan terukur sehingga konektivitas penerbangan nantinya tumbuh berdasarkan kebutuhan pasar.”

Target 1.000 Desa dalam 12 Bulan

Dalam Qiswa Village Umrah Market Activation Plan, QNA merancang program awal selama 12 bulan dengan target:

1.000 desa teraktivasi
1.000 Village Agent
100 Regional/District Coordinator
100.000 leads
50.000 qualified leads
10.000 high-intent prospects
indikatif 2.000 jamaah

Dokumen tersebut juga menegaskan bahwa angka tersebut merupakan target perencanaan dan bukan jaminan hasil komersial.

Implementasinya dirancang bertahap. QNA menargetkan 100 desa pada kuartal pertama, 250 desa secara kumulatif pada kuartal kedua, 600 desa pada kuartal ketiga dan 1.000 desa pada akhir periode 12 bulan.

Bukan Agen Umrah di Tingkat Desa

Ada satu aspek penting dalam konsep QNA yang juga menunjukkan perhatian terhadap aspek kepatuhan.

Village Agent tidak dirancang untuk menerima atau mengelola setoran biaya perjalanan Umrah atas nama sendiri.

Peran mereka lebih diarahkan sebagai edukator, community liaison, marketing representative, lead generator dan customer relationship facilitator.

Penyelenggaraan perjalanan dan pengelolaan dana jamaah diarahkan melalui PPIU yang memiliki kewenangan sesuai regulasi.

Dengan demikian, QNA memosisikan dirinya sebagai pengembang market activation dan connectivity ecosystem, sementara layanan penyelenggaraan perjalanan Umrah tetap melibatkan mitra PPIU sesuai ketentuan.

Dari Database Jamaah ke flyQiswa

Di sinilah konsep tersebut mulai bersinggungan langsung dengan bisnis penerbangan.

Jika jaringan desa mampu menghasilkan data demand yang cukup besar, QNA dapat memetakan:

Origin City → Jumlah Jamaah → Group Size → Preferred Airport → Travel Date → Destination → Seat Requirement

Dokumen QNA menyebut konsep tersebut sebagai “Passenger Pipeline Generator” bagi pengembangan bisnis penerbangan.

Dengan demikian, flyQiswa nantinya tidak hanya melihat pasar dari sisi supply, tetapi juga dari sisi demand yang sudah dipetakan.

“Kami ingin membangun airline connectivity dengan basis demand yang dapat diukur. Jadi bukan sekadar mengatakan ada pasar, tetapi kami berusaha mengetahui di mana pasarnya, siapa penumpangnya dan kapan mereka membutuhkan penerbangan,” kata Ardiansyah.

Daya Tarik bagi Investor

Bagi investor, konsep ini memberikan perspektif berbeda.

Investasi pada tahap market development tidak hanya diarahkan untuk membangun awareness, tetapi juga jaringan distribusi, database dan customer pipeline.

Dalam rancangan QNA, program tersebut diproyeksikan menghasilkan network, distribution, customer database, customer pipeline dan aviation demand data.

Artinya, sebelum ekspansi konektivitas penerbangan dilakukan lebih jauh, QNA berupaya membangun salah satu aset paling penting dalam bisnis penerbangan:

DEMAND.

Karena pesawat membutuhkan penumpang.

Dan penumpang membutuhkan jaringan.

KILAS INFO ANALYSIS

Konsep Umrah Berbasis Desa yang diperkenalkan QNA menarik karena mencoba membalik pola pemasaran konvensional.

Bukan lagi:

AIRPORT → TRAVEL → JAMAAH

tetapi:

DESA → COMMUNITY → DEMAND → TRAVEL → AIRPORT → AVIATION

Ini merupakan pendekatan market creation.

Bila berhasil, jaringan desa dapat menjadi sumber informasi demand yang kemudian digunakan untuk menentukan konektivitas penerbangan.

Dan di sinilah FlyQiswa mendapatkan peran strategis.

FlyQiswa bukan hanya diposisikan sebagai produk penerbangan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan desa, jamaah, PPIU, Saudi ground services dan aviation.

Dokumen QNA sendiri menempatkan tujuan akhirnya sebagai pembangunan “QISWA Integrated Umrah & Aviation Ecosystem.”

KILAS INFO VERDICT

QNA sedang mencoba membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar menjual perjalanan Umrah.

Mereka sedang mencoba membangun pasarnya terlebih dahulu.

Desa menjadi titik awal.

Village Agent menjadi penghubung.

Database menjadi sumber informasi.

Jamaah menjadi customer pipeline.

Dan flyQiswa menjadi salah satu ujung dari ekosistem konektivitas tersebut.

Bagi investor, inilah bagian yang menarik untuk diperhatikan:

QNA tidak hanya ingin mencari penumpang untuk pesawat. QNA ingin membangun sistem yang menghasilkan penumpang untuk jaringan penerbangannya.

Jika konsep tersebut dapat dieksekusi secara konsisten, compliant, dan mampu mencapai target yang telah direncanakan, maka Umrah Berbasis Desa dapat menjadi salah satu fondasi pengembangan bisnis flyQiswa sekaligus membangun jaringan pasar yang memiliki nilai strategis bagi QNA.

“Kami percaya desa bukan hanya pasar. Desa adalah titik awal untuk membangun sebuah ekosistem. Dari desa kita membangun demand, dari demand kita membangun connectivity, dan dari connectivity kita membangun masa depan aviation,” ujar Ardiansyah.