BREAKING NEWS

Terinspirasi Ethiopian Airlines, QNA Lirik Kertajati Airport Sebagai Cargo Hub International Indonesia

FlyQiswa melihat peluang menjadikan Kertajati sebagai simpul cargo berbadan besar yang menghubungkan Indonesia dengan Asia, Australia, Timur Tengah, Afrika hingga Eropa

JAKARTA — Ketika Ethiopian Airlines bersiap memperbesar bisnis cargo dengan membidik hingga 10 Boeing freighter jarak jauh dan Ethiopia membangun Bishoftu International Airport senilai sekitar US$12,5 miliar, PT Qiswa Nusantara Aviasi (QNA) melihat sebuah pertanyaan besar untuk Indonesia:

Mengapa Indonesia harus membangun cargo hub dari awal, sementara kita sudah memiliki Kertajati?

Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pemikiran strategis QNA dalam mengembangkan FlyQiswa, khususnya untuk membuka peluang bisnis international air cargo berbasis Indonesia.

Bagi QNA, Kertajati International Airport (KJT) dapat dikaji bukan hanya sebagai bandara penumpang, tetapi sebagai potential international cargo gateway.

Data resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menunjukkan Kertajati merupakan bandara internasional dengan klasifikasi 4E, critical aircraft Boeing 777-300ER, dan pada 2025 tercatat menangani 153.091 ton kargo. Pada tahun yang sama, jumlah penumpang yang tercatat hanya 47.997.

Angka tersebut justru membuka sebuah perspektif menarik.

Kertajati mungkin bukan kekurangan aset.

Yang dibutuhkan adalah demand, network, airline, cargo ecosystem dan model bisnis yang tepat.

CAPT. MAHDI: “KERTAJATI JANGAN HANYA DILIHAT SEBAGAI BANDARA PENUMPANG”

Menurut Capt. Mahdi Prijatna, Kertajati mempunyai peluang untuk dikaji sebagai salah satu calon cargo hub internasional Indonesia.

“Menurut saya, Kertajati jangan hanya kita lihat dari berapa banyak penumpang yang bisa dilayani. Kita harus melihat Kertajati dari perspektif yang lebih besar: apakah bandara ini bisa menjadi gateway perdagangan udara Indonesia ke dunia?”

Menurutnya, posisi Kertajati berada dalam kawasan yang memiliki akses ke Jawa Barat, kawasan industri, Bandung Raya, Cirebon, Jawa Tengah bagian barat serta jaringan jalan tol.

Pengembangan kawasan Kertajati juga sedang diarahkan menuju ekosistem industri kedirgantaraan.

Pada Juli 2026, PT Dirgantara Indonesia dan PT BIJB menandatangani MoU pengembangan kawasan sisi barat Bandara Kertajati untuk pengembangan kawasan industri kedirgantaraan yang mencakup antara lain MRO, aerostructure dan UAS.

Pemerintah Jawa Barat juga telah memasukkan konsep Kertajati Aerocity – Logistic Hub, yang mencakup cargo, warehouse, transshipment dan light industry.

Bagi QNA, berbagai perkembangan tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun sesuatu yang lebih besar:

Kertajati International Air Cargo Hub.
DARI KERTAJATI KE DUNIA

FlyQiswa membayangkan Kertajati sebagai salah satu simpul dalam jaringan cargo hub-and-spoke Indonesia.

Konsep awalnya:

INDONESIA DOMESTIC CARGO
KERTAJATI CARGO HUB
ASIA
AUSTRALIA
MIDDLE EAST
AFRICA
EUROPE

Namun Capt. Mahdi menekankan bahwa ini bukan proposal rute komersial yang sudah final.

Ini adalah strategic concept yang harus diuji melalui studi kelayakan, cargo demand analysis, bilateral traffic rights, airport capability, aircraft performance dan economics.

“Kita tidak boleh langsung mengatakan Kertajati pasti menjadi hub dunia. Tetapi saya kira sangat layak untuk kita lakukan feasibility study secara serius. Kita harus menguji: cargo apa yang tersedia, dari mana asalnya, ke mana tujuannya, berapa volumenya, aircraft apa yang cocok dan siapa potential anchor carrier-nya.”


MENGAPA WIDEBODY FREIGHTER?

Menurut Capt. Mahdi, perkembangan industri cargo global menunjukkan bahwa Indonesia perlu mulai memikirkan armada berbadan besar, bukan hanya narrowbody freighter.

Banyak operasi cargo domestik memang menggunakan pesawat berbadan sedang karena sesuai dengan kebutuhan jaringan dan volume pasar.

Model tersebut tetap diperlukan.

Tetapi menurut QNA, Indonesia membutuhkan layer baru.

NARROWBODY FREIGHTER

Domestic feeder & regional cargo


WIDEBODY FREIGHTER

International hub-to-hub


GLOBAL CARGO NETWORK

“Saya tidak melihat widebody freighter sebagai pengganti pesawat cargo yang sekarang beroperasi di Indonesia. Justru kita membutuhkan kombinasi. Pesawat narrowbody menjadi feeder, kemudian widebody menjadi backbone international network.”

Dengan konsep ini, cargo dari berbagai kota dapat dikumpulkan terlebih dahulu.

Misalnya:

Surabaya → Kertajati
Makassar → Kertajati
Balikpapan → Kertajati
Papua → Kertajati
Manado → Kertajati

Kemudian dikonsolidasikan menjadi volume yang cukup untuk penerbangan international long-haul.

KERTAJATI BISA MENJADI “FACTORY OF CARGO”

Capt. Mahdi melihat konsep cargo hub bukan sekadar tempat pesawat datang dan pergi.

Menurutnya, Kertajati harus menjadi tempat cargo dikumpulkan, diproses, dikonsolidasikan dan didistribusikan.

“Kita jangan membangun cargo hub yang hanya menjadi tempat parkir pesawat. Kertajati harus menjadi tempat cargo ecosystem bekerja.”

Ekosistem tersebut meliputi:

Cargo Terminal
Bonded Warehouse
Cold Chain
Express Cargo
E-Commerce Logistics
Pharmaceutical Logistics
Perishable Cargo
Automotive Components
High-Value Cargo
Customs
Ground Handling
Trucking
Digital Cargo Platform
Freighter Operations

Dengan demikian, bisnis yang tercipta bukan hanya pendapatan airline.

Tetapi juga logistics, warehousing, ground handling, trucking, freight forwarding, customs services, maintenance dan kawasan industri.

KEUNGGULAN KERTAJATI: BUKAN MEMBANGUN DARI NOL

Inilah yang membedakan konsep Kertajati dengan banyak proyek cargo hub baru.

Kertajati sudah memiliki infrastruktur bandara.

Kemenhub mencatat KJT sebagai bandara internasional kelas 4E dengan critical aircraft Boeing 777-300ER.

Di sisi lain, kawasan sekitarnya memiliki konektivitas melalui Cisumdawu dan Cipali, serta berada dalam konteks pengembangan Rebana Metropolitan.

Pemerintah Jawa Barat juga telah mengidentifikasi potensi konektivitas Kertajati dengan kawasan industri, Pelabuhan Patimban dan Cirebon.

Artinya:

Kertajati tidak harus dibangun sebagai airport baru.

Yang harus dibangun adalah business ecosystem-nya.

QNA MEMBUKA PELUANG KOLABORASI INVESTOR

Inilah bagian yang menurut saya penting untuk menjadikan berita ini sekaligus investment invitation.

QNA tidak perlu mengatakan:

“Kami akan membangun cargo hub Kertajati.”

Lebih kredibel jika mengatakan:

“QNA membuka peluang kolaborasi strategis untuk mengkaji dan mengembangkan Kertajati sebagai international air cargo hub.”

Capt. Mahdi:

“Kami melihat ini bukan proyek yang bisa dikerjakan oleh satu perusahaan saja. Kalau Indonesia ingin membangun cargo hub internasional, kita membutuhkan investor, airline, aircraft lessor, logistics company, cargo terminal operator, freight forwarder, technology provider dan strategic partner.”

“Karena itu, kami membuka pemikiran ini kepada investor dan strategic partners yang memiliki visi yang sama. Mari kita kaji bersama apakah Kertajati dapat dikembangkan menjadi salah satu international cargo gateway Indonesia.”

Ini menjadi call to action yang jauh lebih elegan untuk investor.

DARI ETHIOPIA, KITA BELAJAR

Ethiopian Airlines memberikan contoh yang menarik.

Mereka tidak hanya membeli freighter.

Mereka membangun airport.

Mereka membangun warehouse.

Mereka membangun logistics.

Mereka membangun network.

Dan semuanya diarahkan kepada satu tujuan:

MENJADIKAN AFRIKA TERHUBUNG MELALUI ETHIOPIA.

Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan modelnya sendiri.

Dan Kertajati dapat menjadi salah satu kandidat yang patut diuji.

FLYQISWA: MEMBANGUN JARINGAN, BUKAN SEKADAR ARMADA

Bagi QNA, FlyQiswa tidak harus berhenti pada passenger connectivity.

Konsep FlyQiswa dapat berkembang menjadi platform aviation yang menghubungkan:

PASSENGER
CARGO
LOGISTICS
DOMESTIC FEEDER
INTERNATIONAL NETWORK

Capt. Mahdi:

“Kami melihat FlyQiswa dalam perspektif jangka panjang. Aviation tidak hanya tentang membawa manusia. Ada arus barang yang jauh lebih besar di belakang aktivitas ekonomi.”

“Kalau kita bisa membangun domestic feeder network yang kemudian terkoneksi dengan international widebody cargo network, Indonesia memiliki peluang untuk menciptakan value chain baru.”

TARGETNYA BUKAN HANYA INDONESIA

Jika kajian Kertajati menunjukkan feasibility yang kuat, maka jaringan internasional tidak harus terbatas pada satu atau dua negara.

Potensinya dapat dikaji bertahap:

ASIA

China – Korea – Jepang – India – Southeast Asia

AUSTRALIA

Sydney – Melbourne – Brisbane – Perth

MIDDLE EAST

Jeddah – Riyadh – Dubai – Doha - Abudabi

AFRICA

Marocco - Nairobi – Addis Ababa – Johannesburg

EUROPE

Amsterdam – Frankfurt – Paris – London

Sekali lagi, daftar tersebut merupakan contoh koridor untuk studi jaringan, bukan pengumuman rute FlyQiswa.

Justru di sinilah diperlukan feasibility study berbasis origin-destination cargo data.

INVESTOR OPPORTUNITY: THE NEXT INDONESIAN AVIATION STORY

Menurut Capt. Mahdi, Indonesia membutuhkan proyek aviation yang dapat menciptakan economic multiplier effect.

“Saya kira investor harus melihat cargo aviation bukan hanya sebagai bisnis airline. Ini adalah bisnis ecosystem.”

Karena satu cargo hub dapat menciptakan kebutuhan terhadap:

AIRCRAFT

→ AIRPORT
→ CARGO TERMINAL
→ WAREHOUSE
→ LOGISTICS
→ MRO
→ GROUND HANDLING
→ TRUCKING
→ INDUSTRIAL PARK
→ EXPORT
→ GLOBAL MARKET

Dan menurutnya, inilah yang membuat peluang Kertajati menarik.

“Kalau kita berhasil membangun Kertajati sebagai cargo hub internasional, yang kita bangun bukan hanya bisnis penerbangan. Kita sedang membangun salah satu mesin perdagangan baru Indonesia.”

KILAS INFO ANALYSIS

Kertajati saat ini menghadapi tantangan pemanfaatan kapasitas dan demand. Pemerintah Jawa Barat sendiri menyebut perlunya diversifikasi bisnis, termasuk MRO dan logistik, sementara pengembangan Aerospace Park terus didorong.

Justru karena itu, cargo bisa menjadi salah satu alternatif strategic repositioning.

Bukan dengan memaksa Kertajati menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan pasar.

Tetapi dengan bertanya:

“Apa fungsi ekonomi terbaik yang bisa diberikan kepada Kertajati?”

Dan salah satu jawabannya layak diuji:

INTERNATIONAL AIR CARGO HUB.

KILAS INFO VERDICT

Ethiopian Airlines sedang menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat membangun cargo power melalui kombinasi freighter, airport, warehouse dan logistics ecosystem.

Indonesia tidak harus meniru Ethiopia.

Tetapi Indonesia harus belajar dari strateginya.

Dan untuk QNA melalui FlyQiswa, Kertajati layak ditempatkan di meja studi.

Bukan sebagai proyek yang sudah diputuskan.

Tetapi sebagai opportunity yang harus dibuktikan melalui data dan feasibility study.

Jika hasil studi menunjukkan cargo demand yang memadai, konektivitas yang kompetitif dan economics yang sehat, maka Kertajati dapat dikembangkan secara bertahap menjadi salah satu:

International Air Cargo Gateway Indonesia.

Dari Kertajati:

Indonesia → Asia

Indonesia → Australia

Indonesia → Timur Tengah

Indonesia → Afrika

Indonesia → Eropa

Dan pada akhirnya, yang sedang dibangun bukan sekadar penerbangan cargo.

Yang sedang dibangun adalah jalur perdagangan udara Indonesia menuju dunia.

Capt. Mahdi menutup:

“Indonesia jangan selamanya menjadi pasar yang dilayani oleh cargo hub negara lain. Kita memiliki kesempatan untuk membangun hub kita sendiri. Kertajati adalah salah satu aset yang menurut saya layak kita kaji bersama. Kalau pemerintah, investor, airline dan industri logistics memiliki visi yang sama, saya percaya Indonesia bisa memiliki cerita baru dalam air cargo dunia.”

FlyQiswa — Connecting Indonesia to the World through Aviation & Logistics.

KILAS INFO AVIATION
“Membaca Arah Langit, Memahami Masa Depan.”

Pemimpin Redaksi: Mahdi Priatna