BREAKING NEWS

Driver Green SM Ditemukan Meninggal Di Dalam Mobil: Siapa Yang Menjaga Kesehatan Mitra?

 

Kabar duka kembali datang dari kalangan pengemudi. Penyebab kematian belum terkonfirmasi, tetapi peristiwa ini semestinya menjadi alarm bagi Green SM untuk membuka kembali sistem keselamatan, kesehatan dan fatigue management para mitranya.
KILAS INFO | OPINI PUBLIK

Redaksi menerima informasi dari kalangan pengemudi mengenai seorang mitra pengemudi Green SM yang disebut ditemukan meninggal dunia di dalam kendaraan saat berada di kawasan Jl. Gajah Mada, Jakarta.

Informasi tersebut belum kami temukan konfirmasi resminya dari pihak Green SM maupun keterangan medis mengenai penyebab kematian.

Karena itu, KILAS INFO tidak akan menyimpulkan bahwa korban meninggal akibat kelelahan atau terlalu lama bekerja.

Namun ada satu pertanyaan publik yang jauh lebih penting:

Apakah sistem keselamatan pengemudi saat ini sudah cukup untuk memastikan seorang mitra tidak bekerja dalam kondisi yang membahayakan dirinya sendiri?

Pertanyaan ini bukan tuduhan.

Ini adalah pertanyaan keselamatan publik.

GREEN SM SENDIRI MENYEBUT KESELAMATAN SEBAGAI PRIORITAS
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena Green SM sendiri secara terbuka menyatakan bahwa keselamatan merupakan salah satu prioritas operasionalnya.

Pada Mei 2026, Green SM bahkan mengumumkan kerja sama dengan Korlantas Polri untuk meningkatkan standar keselamatan dan profesionalisme pengemudi.

Program tersebut mencakup defensive driving, penanganan keadaan darurat, etika berkendara profesional dan kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas. Green SM menyebut program tersebut dimulai dengan lebih dari 300 mitra pengemudi dan direncanakan diperluas hingga sekitar 7.000 peserta sepanjang 2026.

Green SM juga pernah menyatakan bahwa keselamatan, kepatuhan hukum, disiplin dan transparansi merupakan prinsip utama dalam operasionalnya.

Maka ketika muncul informasi mengenai seorang driver yang ditemukan meninggal di dalam kendaraan, publik berhak meminta penjelasan.

Bukan untuk menghakimi.

Tetapi untuk memastikan bahwa sistem yang dibangun benar-benar bekerja.

MITRA BOLEH BEKERJA FLEKSIBEL. TETAPI APAKAH RISIKO JUGA FLEKSIBEL?
Ada satu hal penting yang perlu diluruskan.

Green SM secara resmi menyebut pengemudinya sebagai mitra pengemudi, bukan karyawan tetap dengan sistem shift. Mitra dapat login ketika siap bekerja dan logout ketika ingin berhenti.

Green SM juga menjelaskan bahwa sistem pendapatan menggunakan bagi hasil, dengan peluang bagian pendapatan hingga 45-55 persen pada halaman rekrutmen resminya.

Model ini memberikan fleksibilitas.

Tetapi justru di sinilah pertanyaan keselamatan menjadi penting.

Jika jam kerja fleksibel, siapa yang memastikan pengemudi tidak bekerja melewati batas aman?
Apakah aplikasi memiliki mekanisme untuk mendeteksi:

durasi pengemudi aktif;
waktu mengemudi tanpa istirahat;
pola kerja ekstrem;
penurunan performa akibat kelelahan;
waktu istirahat;
kondisi kesehatan tertentu;
atau tanda-tanda pengemudi mengalami fatigue?
Dan jika sistem mendeteksi kondisi yang berpotensi membahayakan, apakah pengemudi benar-benar didorong untuk berhenti?

Ini bukan persoalan sederhana.

Karena di satu sisi perusahaan membutuhkan pelayanan dan ketersediaan armada.

Di sisi lain, pengemudi adalah manusia.

Bukan mesin yang dapat terus bekerja selama baterainya belum habis.

JANGAN HANYA MENGUKUR DRIVER DARI JUMLAH TRIP
Inilah kritik yang menurut kami perlu disampaikan secara terbuka kepada manajemen Green SM.

Sebuah sistem transportasi modern tidak boleh hanya mengukur:

berapa banyak perjalanan yang berhasil dilakukan.

Tetapi juga harus mengukur:

berapa aman orang yang melakukan perjalanan tersebut.

Green SM sendiri menjelaskan bahwa terdapat standar performa seperti acceptance rate dan completion rate. Bahkan tingkat penerimaan order dapat berpengaruh terhadap bonus performa.

Secara bisnis, sistem performa tentu memiliki alasan.

Namun dari perspektif keselamatan, muncul pertanyaan:

Apakah sistem insentif dan performa tersebut sudah dirancang agar tidak secara tidak langsung mendorong mitra untuk terus berada di jalan ketika tubuhnya sebenarnya membutuhkan istirahat?

Kami tidak mengatakan bahwa sistem tersebut menyebabkan kematian.

Tidak ada dasar untuk mengatakan itu.

Tetapi pertanyaan tersebut layak dijawab oleh manajemen Green SM.

GREEN SM, KAMI MINTA JAWABAN
KILAS INFO memandang ada setidaknya delapan pertanyaan yang seharusnya dijawab Green SM kepada publik dan komunitas mitra pengemudi:

1. Apakah benar terdapat mitra pengemudi Green SM yang ditemukan meninggal di dalam kendaraan di kawasan Jl. Gajah Mada sebagaimana informasi yang beredar?
2. Jika benar, kapan perusahaan menerima informasi tersebut dan bagaimana respons pertama perusahaan?
3. Apakah Green SM melakukan pemeriksaan internal terhadap aktivitas pengemudi sebelum kejadian?
4. Apakah sistem Green SM memiliki fatigue management system atau mekanisme untuk mendeteksi pengemudi yang bekerja terlalu lama?
5. Apakah terdapat batas maksimum waktu aktif mengemudi dalam satu periode?
6. Bagaimana perusahaan memastikan sistem bonus, performa dan pendapatan tidak mendorong pengemudi mengabaikan kebutuhan istirahat?
7. Apakah tersedia prosedur pemeriksaan kesehatan atau welfare check terhadap mitra pengemudi yang menunjukkan kondisi tidak normal?
8. Dan yang paling penting: apa yang akan dilakukan Green SM agar kejadian serupa tidak terjadi lagi?

DARI “GREEN MOBILITY” MENUJU “SAFE MOBILITY”
Green SM membawa positioning sebagai layanan mobilitas berbasis kendaraan listrik.

Itu bagus.

Tetapi mobilitas hijau tidak cukup hanya berbicara mengenai kendaraan tanpa emisi.

Mobilitas yang benar-benar berkelanjutan harus mencakup tiga hal:

Green Vehicle
kendaraan yang lebih ramah lingkungan.

Safe Passenger
penumpang yang terlindungi.

Safe Driver
pengemudi yang juga terlindungi.

Karena tidak ada gunanya membangun transportasi masa depan dengan kendaraan yang semakin canggih tetapi manusia yang mengoperasikannya justru berada dalam tekanan keselamatan.

INI BUKAN SERANGAN TERHADAP GREEN SM
KILAS INFO perlu menegaskan posisi editorial.

Tulisan ini bukan vonis bahwa Green SM bertanggung jawab atas kematian seseorang.

Kami juga tidak mengatakan korban meninggal karena kelelahan.

Penyebab kematian harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan medis dan informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tetapi sebagai media, kami mempunyai kewajiban untuk mengangkat pertanyaan yang menyangkut kepentingan publik.

Apalagi Green SM sendiri secara resmi menyatakan komitmen terhadap keselamatan dan telah menggandeng Korlantas Polri untuk meningkatkan standar keselamatan pengemudi.

Maka standar yang lebih tinggi juga berarti transparansi yang lebih tinggi ketika terjadi sesuatu.

KILAS INFO ANALYSIS
Persoalan sebenarnya mungkin bukan hanya mengenai satu orang driver.

Ini tentang bagaimana industri ride-hailing memperlakukan keselamatan manusia di balik sistem digital.

Aplikasi bisa menghitung jarak.
Aplikasi bisa menghitung waktu.
Aplikasi bisa menghitung acceptance rate.
Aplikasi bisa menghitung jumlah perjalanan.

Tetapi sistem juga harus mampu menjawab satu hal:
Kapan seorang manusia harus berhenti bekerja?
Itulah tantangan sebenarnya.
Karena fatigue bukan selalu kecelakaan yang terlihat.
Kadang ia datang diam-diam.
Seorang pengemudi berhenti di pinggir jalan.
Masuk ke kendaraan.
Tidak keluar lagi.

Dan keluarga baru mengetahui bahwa orang yang pagi hari berangkat mencari nafkah, ternyata tidak pernah pulang.

Jika informasi mengenai kasus ini benar, maka jangan menunggu kasus berikutnya untuk memperbaiki sistem.

KILAS INFO VERDICT
GREEN SM PERLU MEMBUKA SISTEM KESELAMATAN MITRA PENGEMUDI KEPADA PUBLIK
Kami mendorong Green SM untuk tidak melihat pertanyaan ini sebagai serangan terhadap perusahaan.

Sebaliknya, jadikan ini kesempatan untuk menunjukkan bahwa slogan safety first benar-benar diterapkan sampai kepada orang yang paling penting dalam bisnis transportasi:

pengemudinya sendiri.

Kami juga mendorong agar dilakukan audit internal terhadap fatigue management, jam aktif pengemudi, sistem insentif, emergency response dan driver welfare.

Dan bila diperlukan, hasil evaluasi tersebut sebaiknya disampaikan secara terbuka kepada publik.

Karena pada akhirnya:

Penumpang membutuhkan perjalanan yang aman. Tetapi pengemudi juga berhak pulang dengan selamat kepada keluarganya.

KILAS INFO menunggu penjelasan resmi Green SM dan membuka ruang hak jawab sepenuhnya.